Bonus Demografi
Bonus demografi adalah usia produktif disuatu negara atau usia siap kerja (usia 15 – 64 tahun) lebih banyak daripada usia non produktif (usia dibawah 15 tahun dan 64 tahun ke atas). Artinya lebih banyak yang naggung beban daripada yang ditanggung. Bonus demografi ini adalah suatu anugerah, yang mana tidak semua negara punya hal semacam ini, oleh sebab itu dinamakan bonus / anugerah.
Bonus demografi ini terjadi akibat penurunan angka kelahiran dan kematian, yang mengurangi rasio ketergantungan. Hal ini menciptakan peluang untuk pertumbuhan ekonomi yang signifikan, asalkan didukung oleh kebijakan yang tepat. Ditangan pemerintah dan kebijakan yang tepat, Bonus demografi ini bisa membuat perekonomian suatu negara bertumbuh lebih cepat dan menjadi negara maju.
Menurut Fery Irwandi (seorang content creator), negara – negara semacam Jepang dan Korea bisa menukar apapun yang mereka punya asal bisa punya bonus demografi ini. Yang tidak lain tujuannya agar tidak punah. Seperti yang kita tahu, bahwa Jepang dan Korea adalah Negara maju yang sedang menghadapi berbagai masalah dan mereka sudah melakukan berbagai macam cara agar supaya mendapatkan hal semacam ini.
Negara – Negara yang sudah mengalami bonus demografi
1. Jepang
Berdasarkan pencarian saya di google, Jepang pernah mengalami era bonus demografi sekitar pada tahun 1950. Pemerintah Jepang telah mempersiapkan beberapa strategi untuk menghadapi era bonus demografi, di antaranya adalah perbaikan sektor pendidikan, perbaikan sektor kesehatan, perbaikan sektor ketenagakerjaan, dan penurunan angka pemuda yang non-produktif. Keberhasilan Jepang dalam memanfaatkan bonus demografi membuat Negara tersebut menjadi Negara yang maju hingga saat ini.
Saat ini, Jepang itu mengali Jepang mengalami penurunan populasi dan peningkatan jumlah lansia. Pada tahun 2024, populasi Jepang mencapai 124 juta jiwa, terus menurun dari angka 127 juta jiwa di tahun 2016. Pemerintah Jepang telah melakukan berbagai upaya untuk menarik tenaga kerja asing, termasuk WNI. Beberapa sektor yang kekurangan tenaga kerja adalah konstruksi, manufaktur, pertanian, dan perhotelan.
2. Korea Selatan
Bonus demografi Korea Selatan terjadi pada tahun 1960-an hingga 1990-an, ketika proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) sangat besar dan jumlah penduduk usia muda relatif kecil. Fenomena ini menjadi pendorong utama industrialisasi cepat dan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan, yang berubah dari negara berkembang menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia.
3. China
Negara lain yang telah mendapatkan mafaatnya dari bonus demografi adalah China. Baru - baru ini, China juga telah merasakan betapa besarnya dampak bonus demografi ini. China disebutkan turut mengalami era bonus demografi pada sekitar tahun 1990an, dan China berhasil memanfaatkan momentum tersebut untuk menjadi negara maju.
Seperti yang kita tahu bahwa dulu itu China Negara yang miskin sekali. Tapi karena mampu memanfaatkan bonus demografi dengan baik, sekarang China menjadi salah satu negara adidaya di dunia dan bahkan bisa head to head dengan Amerika Serikat.
4. India
India mengalami bonus demografi. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sangat besar dibandingkan dengan penduduk usia non-produktif. Bonus demografi ini memberikan potensi pertumbuhan ekonomi yang signifikan jika dimanfaatkan dengan baik melalui kebijakan yang tepat seperti investasi pada pendidikan, kesehatan, dan pengembangan keterampilan. India memiliki bonus demografi yang besar dan diproyeksikan akan terus meningkat hingga sekitar tahun 2055-2056.
Berbicara soal teknologi, menurut Ferry Irwandi di channel youtubenya kita bisa lihat betapa maju dan seberapa besar pengaruhnya India pada dunia teknologi di global. Kalau kita ke Silicon Valley misalnya kebanyakan orang India.
Walaupun dampaknya jelas dan nyata, tapi banyak pakar dan ekonom yang bilang kalau India dan China ini gagal dalam memanfaatkan potensi bonus demografi ini. Padahal kita tahu dampaknya begitu jelas dan nyata. Coba kita bayangkan bagaimana kalau China dan India ini berhasil memanfaatkan bonus demografi dengan baik, betapa dahsyat pengaruhnya terhadap dunia ini. Gagal saja China sudah bikin AS ketar ketir, bagaimana kalau berhasil.
Bagaimana dengan Indonesia
Berdasarkan data yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia per-Juni 2022 telah mencapai 275.36 juta jiwa, di mana, 190.83 juta jiwa (69.3%) di antaranya masuk ke dalam kategori usia produktif dan 84.53 juta jiwa (30.7%) di antaranya masuk ke dalam kategori usia belum produktif dan tidak produktif.
Dengan komposisi tersebut, maka rasio ketergantungan/beban tanggungan (dependency ratio) dari Indonesia adalah sebesar 44.3%, yang berarti bahwa, setiap 100 penduduk usia produktif ‘menanggung’ sebanyak 44 – 45 jiwa penduduk usia belum produktif atau tidak produktif. Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa Indonesia saat ini tengah mulai memasuki era bonus demografi, meskipun belum mencapai puncaknya.
Berdasarkan data serta informasi yang dilansir oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak dari era bonus demografi pada tahun 2045.
Dalam laporan Proyeksi Penduduk Indonesia 2015 – 2045, Kementerian PPN dan BPS memprediksi bahwa jumlah penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 318.96 juta jiwa pada tahun 2045, dengan jumlah penduduk usia produktifnya mencapai sekitar 207.99 juta jiwa dan jumlah penduduk usia belum produktif dan tidak produktifnya mencapai 110.97 juta jiwa.
Berdasarkan data tersebut, dependency ratio dari penduduk Indonesia pada tahun 2045 diperkirakan akan mencapai 53.35%, yang berarti bahwa setiap 100 penduduk usia produktif akan ‘menanggung’ sebanyak 53 – 54 jiwa penduduk usia belum produktif atau tidak produktif.
Lagi – lagi, menurut Ferry Irwandi dalam chenel youtube nya, Banyak pakar dan banyak analis, ada satu Negara yang punya potensi yang dapat melebihi India dan China dalam memanfaatkan bonus demografi, karena faktor politik, sistem baseline pendidikan, situasi yang lebih kondusif dan masyarakat yang dianggap lebih bisa memanfaatkan dan mengoptimalkan bonus demografi. Negara tersebut berada di kawasan Asia Tenggara dan di kenal dengan nama INDONESIA.
Bahkan lima atau sepuluh tahun yang lalu di youtbe kita melihat sendiri para bule dan pakar – pakar nge-bahas soal Indonesia. Indonesia itu bakal jadi power house diekonomi duia. Negara yang akan melampau Jepang, Korea dan lain sebagainya. Itu semua bukan hanya sekedar kata – kata atau mencari adsense dengan membahas Indonesia, tapi itu semua ada datanya.
Akan tetapi itu semua tidak serta merta turun dari langit atau berhasil dalam sekejap mata, tapi perlu usaha yang keras untuk mewujudkannya supaya bonus demografi ini tidak menjadi bencana. Dan yang menjadi kunci nya atau peran utama jelas pemerintahan saat ini dan anak muda Indonesia.
Berbicara mengenai anak muda Indonesia, ada ratusan ribu anak muda lulusan luar negeri yang siap berkontribusi, siap memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini. Dan banyak diantara meraka itu yang lulusan terbaik. Bahkan kalau kita cari di google ada banyak anak muda yang berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Cendikiawan Suryaatmadja.
Cendikiawan Suryaatmadja. Anak muda Indonesia yang akrab
dipanggil Diki ini termasuk ke dalam orang-orang jenius karena skor IQ-nya 189.
Dengan IQ yang melebihi
Albert Einstein tersebut, ia sudah menjadi mahasiswa di University of Waterloo,
Kanada dengan jurusan Fisika, saat masih berusia 12 tahun. Jadi, begitu lulus
SD, Diki langsung masuk kuliah. Ia
lalu berhasil menyelesaikan gelar masternya di usia 17 tahun dan masuk dalam
daftar lulusan master termuda dalam sejarah University of Waterloo. Ini adalah aset yang luar biasa yang dimiliki negara ini.
Nah sekarang bagaimana dengan pemerintahnya, Pemerintahnya siap apa tidak? Percaya atau tidak? Ngasih kesempatan atau tidak? Membuka lapangan pekerjaan atau tidak? Memfasilitasi atau tidak? Member insentif atau tidak? Atau memprioritaskan atau tidak? Seperti yang kita ketahui saat ini , masih banyak sekali PR yang dikerjakan oleh pemerintah. Carut marutnya system demokrasi di negeri ini, banyaknya kasus suap menyuap yang muncul diberita, dan berbagai macam masalah lainnya.
Saat ini adalah momen yang plaing krusial dan esensial yang harus dipikirkan adalah waktu sekarang yaitu lima tahun sebelum 2030 terjadi pemerintah berhasil memanfaatkan bonus demografi atau tidak itu tergantung pemerintahan yang sekarang. Dimasa depan nanti sejarah akan mencatat pemerintahan yang sekarang akankah jadi pemerintahan yang berhasil mewujudkan Indonesia ke mimpinya yaitu menjadi Negara maju dari Negara berkembang. Atau menyia – nyiakan kesempatan ini.menyia – nyiakan bonus demografi yang ada dan menjadikannya sebagai beban.
Jadi kebutuhan pemerintah untuk benar – benar fokus di hal ini bukan Cuma kebutuhan masyarakat, tapi kebutuhan pemerintah. Apalagi menyangkut reputasi pemerintah itu sendiri. Dan itu semua akan tercatat dalam sejarah dan menjadi pembicaraan anak cucu kita nanti. Tentu kita mau pemerintahan yang sekarang adalah pemerintahan yang berhasil mewujudkan Indonesia Emas, bukan sebaliknya. Bukan jadi ratapan anak cucu kita nanti. Andai pemerintahan waktu itu pemerintah benar - benar memanfaatkan bous demografi dengan baik kita sudah jadi negara maju sekarang.
Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=e5gGf--7YtU
https://kumparan.com/max-farrel/jepang-dengan-masalah-demografinya-24L7rdkXJWT