Rabu, 25 Juli 2012

GURUKU INSPIRASIKU
          Menurut pepatah jawa, Guru adalah digugu lan ditiru yang berarti bahwa guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya, baik dari cara berpakaian, tingkh laku, tutur kata dan lain sebagainya semuanya yang berkaitan tentang guru akan dijadikan panutan oleh siswanya. Guru juga bisa diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab dalam merencanakan dan menuntun murid-murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai sifat dan kepribadian yang baik agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Tidak  sedikit guru yang menyeleweng (menyimpang) dari tugasnya. Bahkan akhir-akhir ini sering kita dengar baik di tv, maupun dikoran-koran yang memberitakan tentang kebejatan dan kerusakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorag guru. Pancabulan, tindak kekerasan, judi bahkan juga ada yang sampai pergi ke komplek-komplek, hal tersebut sungguh sangat disayangkan karena dapat merusak citra sebagai seoarng guru. Entah apa yang ada di dalam fikran mereka sehingga mau melakukan perbuatan bejat tersebut. Tetapi berbeda dengan guru yang satu ini, tutur kata yang lembut sifatnya yang sopan membuat beliau pantas dinobatkan sebagai guru teladan atau guru terbaik diantara guru-guru lainnya di  sekolah SMP Negeri 3 Lempuing Jaya.
SMP Negeri 3 Lempuing Jaya adalah salah satu sekolah favorit di daerahku. Kira-kira pada tahun 1998 sekolah ini pernah masuk sepuluh besar dengan agregat sekolah terbaik dan terbagus Se-Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dengan siswa yang cukup banyak dan fasilitas yang mendukung serta jumlah tenaga pengajar atau guru yang lebih dari cukup dibanding dengan sekolah-sekolah lainnya membuat sekolah tersebut masuk ke dalam urutan sekolah terbaik dan terbagus.
Saya masuk di sekolah SMP Negeri 3 Lempuing Jaya pada tahun 2003 dan lulus pada tahun 2006. Siswa yang sekolah disitu juga bermacam-macam, ada yang nakal dan yang baik, ada yang pintar ada yang kurang, juga ada yang berbeda agama mulai dari Islam, Kristen, Protestan dan Hindu. Selain ilmu yang didapat,  dari situ saya juga mendapatkan pengalaman yang banyak, mulai dari teman, lingkungan yang berada di sekitar sekolah tersebut dan guru yang pernah mengajar saya.
Dari sekian banyak guru yang masih saya ingat adalah  Pak Muslim. Sesosok nama yang sangat singkat dan tutur katanya yang lembut membuat saya terus mengingatnya. Tidak hanya itu, bahkan semua siswa yang sekolah di situ sudah pasti mengenal beliau, bukan karena pangkat ataupun kekayaan yang dimiliki, melainkan sikapnya yang sopan dan sabar serta tutur kata yang lembut dan cara mengajarannya yang mudah dipahami oleh siswa.
Dengan berbekal ilmu agama yang cukup, Pak Muslim diberi kepercayaan untuk mengajarkan agama Islam kepada para siswanya. Beliau adalah satu-satunya guru agama Islam disekolah tersebut yang mengajar disemua kelas. Selain mengajar Agama, beliau juga merupakan wali kesiswaan pada waktu itu. Meskipun mendapat gelar sebagai wali kesiswaan tetapi beliau tidak pernah bersikap sombong kepada guru-guru lain ataupun kepada para siswanya.
Sabar bukan berarti diremehkan, tetapi beliau juga bersifat tegas kepada para siswanya yang sering membangkang atau melakukan pelanggaran. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk menghukum para muridnya yang terbukti melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ada disekolah tersebut. Hal itu terbukti sewaktu saya masih bersetatus sebagai siswa di sekolah tersebut, ketika itu ada sebagian siswa yang merokok di dalam ataupun diluar sekolah tetapi masih memakai atribut sekolah, sebagian siswa yang mengetahuinya melapor ke wali kesiswaan, tidak langsung mempercayainya tetapi beliau membuktikan terlebih dahulu apakah siswa tersebut terbukti melakukannya atau tidak.
Keesokan harinya semua siswa disuruh berkumpul di lapangan, siswa yang melakukan pelanggaran disuruh maju satu-persatu untuk deberi arahan dan diberi hukuman yang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan yaitu tangan diikat dibelakang serta mulut dimasuki empat sampai lima batang rokok disuruh untuk menghisap tanpa menggunakan tangan sampai habis. “Saya marah dan menghukum kalian bukan karena jengkel, tetapi  karena saya masih sayang kepada kalian, kalau hal ini dibiarkan mau jadi apa kalian semua”. Itulah kata-kata yang dikeluarkan oleh beliau dengan nada menyesal yang masih saya ingat sampai saat ini. Beliau merasa bersalah karena anak didiknya masih ada yang terbukti melakukan pelanggaran dan pelajaran agama yang beliau ajarkan selama ini ternyata belum seratus persen mampu diterapkan oleh anak didiknya. Beliau juga pernah berkata “bagi saya pintar tidak terlalu penting, yang terpenting adalah tingkah laku kalian semua. Percuma punya siswa/siswi pintar kalau kelakuan bejat,  tapi sebaliknya saya akan sangat bangga bila semua siswa-siswa yang ada di sini mempunyai tingkah laku yang baik dan sopan.
Selain kesabaran sebagai seorang guru, cara mengajarkan yang beliau terapkan membuat waktu terasa singkat dan berjalan sangat cepat. Supaya proses belajar mengajar tidak tegang diiringin dengan canda khas beliau yang tidak terlalu berlebihan menjadikan para siswanya  semakin rindu akan pelajaran Agama beliau ajarkan. Dengan kendaraan yang sangat sederhana tidak menyurutkan semangat dan rasa tanggung jawab beliau sebagai seorang guru, apapun yang terjadi selagi tidak sakit beliau akan selalu hadir dan memberikan yang terbaik untuk siswanya, karena mengajar dengan hati yang iklas adalah sesuatu hal yang paling mulia dibandingkan dengan pekerjaan lain.
Itulah profil singkat dari seorang guru yang patut dijadikan contoh oleh para siswanya dan guru-guru lain yang ada di Indonesia. Dengan kendaraan yang minim dari keistimewaan dan semangatnya yang luar biasa serta niat yang tulus menjadi seorang guru membuat saya jadi termotivasi untuk meneruskan perjuangan beliau. Ternyata untuk menjadi seorang guru bukanlah mengejar title (pangkat), mempunyai kendaraan yang bagus ataupun menumpuk uang sebanyak-banyaknya, tetapi yang terpenting adalah mengubah tingkah laku dan cara berfikir siswa menjadi lebih baik. Kunci utama sukses seorang guru adalah mempunyai rasa semangat yang luar biasa serta niat yang tulus tanpa mengharapkan imbalan sesuatu apapun dari profesinya.

Selasa, 24 Juli 2012

Muhammad Bushairi: Aplikasi Sumber dan Media Pembelajaran dalam Prose...

Muhammad Bushairi: Aplikasi Sumber dan Media Pembelajaran dalam Prose...: BAB II PEMBAHASAN A.     Pengertian Sumber Belajar Sumber belajar yang dipakai dalam dunia pendidikan adalah suatu system yang terdi...

Pengajaran Keterampilan Menyimak Bahasa Arab Di MI


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kegiatan Pengajaran Keterampilan Menyimak Bahasa Arab Di MI
Dalam kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan dengan berbagai kesibukan yang menuntut keterampilan menyimak sepeti  percakapan dalam lingkungan keluarga, teman sekelas dan tetangga. Begitu juga dengan para siswa yang mengikuti proses pembelajran harus mampu menyimak bila ingin maju dalam pendidikannya. Dan salah satu faktor pendukung tercapainya tujuan pembelajaran bahasa lisan khususnya menyimak dan berbicara adalah memilih teknik yang tepat. Ketika memilih teknik untuk membahas suatu topik tentunya harus mempertimbangkan kemampuan guru, tingkat pemahaman siswa, serta karakteristik kelas karena setiap kelas memiliki, karena setiap kelas memiliki karakteristik yang unik dan berbeda-beda. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih teknik yang tepat dalam pengajaran menyimak, yaitu sebagai berikut:
1.      Kemampuan menyimak adalah kemampuan yang pertam-tama dimiliki siswa, apalagi jika mereka belum diperkenalkan pada bahasa tulis
2.      Menyimak tidak seperti membaca
3.      Materi menyimak harus menarik, jelas dan pemilihan kata yang sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman siswa
4.      Melalui kegiatan menyimak dapat menghidupkan suasana kelas yang tadinya positif menjadi aktif lagi
5.      Jangan selalu mengandalkan ketersediaan sarana penunjang

Adapun teknik pengajaran menyimak dalam pengajaran Bahasa Arab di tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah yaitu sebagai berikut:
1.      Dengar dan Lakukan
a.       Instruksi
Guru melatih siswa dengan memberikan input berupa instruksi yang selama pelajaran berlangsung. Pertama-tama guru mengucapkan suatu instruksi dan melengkapi pernyataan tersebut dengan gerakan kepada siswa apa uang harus dilakukan siswa. Biasanya model kalimat yang diucapkan berupa kalimat perintah[1]. Dengan begitu, semakin banyak dan bervariasi intruksi yang digunakan oleh guru, semakin banyak pula perbendaharaan tata dan ungkapan yang dimiliki siswa.
b.      Dengar dan Bergerak
Dengar dan bergerak merupakan salah satu kegiatan menyimak yang melibatkan gerakan fisik. Para siswa akan antusias untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan guru memiliki banyak peluang untuk berkereasi kerena begitu banyak variasi gerakan fisik yang dapat dilakukan bersama-sama dengan para siswa.
c.       Menirukan Cerita
Dalam kegiatan ini, guru menciptakan situasi bercerita dan mengajak para siswa ikut dalam situasi cerita dengan melakukan atau menirukan gerakan yang ada dalam cerita tersebut, seperti mendayung sampan dan menarik tali. Dengan demikian, siswa akan senang dan selalu menunggu gurunya mengajak melakukannya lagi.
d.      Menggambar atau Mewarnai Gambar
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling disenangi siswa. Namun, menggambar atau mewarnai gambar itu memerlukan waktu yang cukup lama. Jadi ketika guru memberikan input secara lisan, guru juga harus memberi waktu yang cukup untuk menyelesaikan perbagian dari suatu gambar.

2.      Menyimak Untuk Tujuan Pemahaman
Dalam hal ini, siswa tidak lagi harus melakukan kegiatan fisik, tetapi lebih pada pemahaman isi pesan secara keseluruhan. Adapun ada beberapa teknik yang bisa dilakukan yaitu:
a.       Latihan Mengidentifikasi
            Dalam latihan ini guru mendeskripsikan salah seorang siswa atau bisa juga benda lain, kemudian siswa yang lain akan menebak sesuatu yang baru dideskripsikan. Siswa akan sangat terbantu jika guru menyediakan media seperti gambar, dan gambar tersebut tidak harus bagus dan sempurna, tetapi sesuai dengan deskripsi yang diberikan secara lisan.
b.      Mencari Kesalahan
            Dalam latihan ini, guru mendeskripsikan suatu gambara yang disertai teks yang mendeskripsikan gambar tersebut, namun guru menyisipkan beberapa deskripsi yang tidak sesuai dengan gambar. Lalu siswa diminta mengidentifikasi apa yang salah dari gambar tersebut.
c.       Mengurutkan Gambar Sesuai dengan Urutan Kejadiannya
            Dalam kegiatan ini, siswa diminta mengurutkan gambar harus sesuai dengan wacana yang dibacakan oleh guru atau diperdengarkan melalui kaset. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini perlu disediakan media berupa gambar-gambar.
d.      Melengkapi Informasi yang Belum Tercantum
            Guru bisa memakai suatu teks pendek atau nyanyian dan menghilangkan beberapa kata, siswa diminta melengkapinya sambil mendengarkan teks yang dibacakan oleh guru
e.       Mendengarkan dan Menirukan
            Kegiatan ini sangat menyenangkan bagi siswa karena mereka dapat bermain-main dengan bahasa dengan contoh pengucapan, penekanan, intonasi dan irama yang bisa menggugah semangat dan motivasi untuk berpartisipasi
f.       Latihan Pengucapan Intonasi
            Dalam latihan ini, guru memberikan input suatu pola, misalnya guru mengucapkan kalimat Tanya dengan pengucapan dan intonasi yang benar, lalu siswa menirukan beberapa kali secara bersama-sama kemudian satu-satu secra bergantian.
g.      Menyanyi
            Siswa diminta untuk menirukan baris-berbaris, kata-perkata dan pengucapannya harus benar. Siswa pelan-pelan akan mulai menirukan dan akhirnya mereka dapat menyanyikan satu lagu secara utuh. Setelah lancer satu lagu bisa disertai dengan gerakan yang sesuai dengan arti kata dalam lagu tersebut.
h.      Mendengarkan Cerita
            Dalam kegiatan ini, guru bisa membaca cerita atau bercerita, kalau bercerita guru lebih leluasa berimprovisasi dan melakukan gerakan dengan kedua tangan karena tidak memegang buku, sedangkan membaca cerita guru harus memegang buku cerita dan membacakan cerita tanpa mengubah apapun. Tapi untuk lebih menarik lagi, tentunya harus disertai dengan improvisasi suara, ditambah gerakan dan ekspresi wajah

B.     Keterampilan Berbicara Bahasa Arab
Kemahiran berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa yang ingin dicapai dalam pengajaran bahasa modern termasuk Bahasa Arab. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa latihan berbicara ini merupakan kelanjutan dari latihan menyiamak yang di dalam kegiatannya juga terdapat latihan mengucapkan. Adapun sebelum melakukan pembelajaran tentang keterampilan berbicara, seorang guru harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
1.      Keterampilan Berbicara dalam Bahasa Arab adalah keterampilan yang mudah dikuasai
2.      Keterampilan berbicara diajarkan dengan model yang benar
3.      Keterbatasan bahasa arab yang dimiliki oleh siswa
4.      Pada saat siswa menanyakan hal yang tidak diketahui maka guru harus segera menjawabnya atau memberitahu
5.      Kurangnya penggunaa baha arab pada saat mereka berbicara
6.      Perlu ada keseimbangan antara aktivitas terkendali dan terpadu
7.      Ada waktu yang tepat untuk memberikan koreksi dan harus dilakukan dengan penuh pertimbangan
Bagi seorang guru ataupun pengajar, pada saat kegiatan pembelajaran mereka tentunya menetukakn suatu strategi atau teknik yang akan digunakan pada saat proses pembelajaran. Dalam hal ini ada beberapa strategi ataupun teknik yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk keterampilan Bahasa Arab secara lisan dalam hal keterampilan yang sifatnya berbicara. Adapun dalam pembagiannya dibagi kedalam dua hal, yaitu:
1.      Strategi pembelajaran kalam berbicara
Sebagai langkah awal yang bisa dilakukan guru dalam proses pembelajaran kalam yaitu[2]:
a.       Bagi pembelajar mubtadi’ (pemula)
1)      Guru melatih berbicara dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa
2)      Pada saat yang bersamaan siswa diminta untuk belajar mengucapkan kata, menyusun kalimat dan mengungkapkan pikiran
3)      Guru mengurutkan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh siswa sehingga berakhir membentuk sebuah tema yang sempurna
4)      Guru bisa menyuruh siswa menjawab latihan-latihan, menghafal percakapan, atau menjawab pertanyaan dari teks
b.      Bagi pembelajar mutawasith (lanjutan)
1)      Belajar berbicara dengan bermain peran
2)      Berdiskusi tentang tema tertentu
3)      Bercerita tentang peristiwa yang terjadi pada siswa
4)      Bercerita tentang informasi yang telah didengar dari tv, radio ataupun yang lain
c.       Bagi pembelajar mutaqaddim (tingkat atas)
1)      Guru memilihkan tema untuk berlatih kalam
2)      Tema yang dipilih hendaknya menarik berhubungan dengan kehidupan siswa
3)      Tema harus jelas
4)      Siswa memilih dua tema atau lebih, sesuai apa yang mereka ketahui

                  2.         Teknik Pengajaran Kemahiran Berbicara
Pada dasarnya tujuan dari latihan berbicara (pengucapan) adalah kemampuan ekspresi yaitu mengemukakan ide  atau fikiran atau perasaan kepada orang lain. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka kita harus mahir dalam berbicara.
Adapun hal yang dapat dilakukan seorang guru dalam melatih siswa dalam berbicara[3], yaitu sebagai berikut:
a.       Latihan asosiasi dan identivikasi, tujuannya yaitu untuk melatih spontanitas, kecepatan dalam megidentifokasi dan mengasosiasikan makna ajaran yang didengarnya. Misalnya, guru menulis di papan tulis beberapa kategori atau jenis benda, siswa diminta meningatnya kemudian guru membuat suatu kata benda dan siswa menyebutkan jenis benda tersebut.
b.      Latihan pada kalimat, dalam hal pula kalimat ini pada dasarnya teknik pengajarannya sudah dibahas di bab qowa’id yang didalamnya terbagi menjadi 3 latihan yaitu, latihan mekanis, latihan bermakna, latihan komunikatif. Dan ketiga hal tersebut jika dipraktikan secara lisan merupakan permulaan dari latihan percakapan.
c.       Latihan percakapan, dalam hal ini kita akan memperboleh berbagai aspek yaitu bahasa, sosial budaya (sopan santun), gerak gerik (bahasa tubuh). Banyak teknik yang dapat dilakukan dalam latihan percakapan ini misalnya dalam model Tanya jawab, menghafalkan dialog, percakapan terpimpin, percakapan bebas
d.      Bercerita, bercerita merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi siswa, tapi terkadang siksaan bagi siswa karena mereka tidak punya gambaran tentang apa yang akan diceritakan. Dan mendengarkan cerita kadang juga menjenuhkan bagi siswa. Jadi dalam hal ini guru harus bisa mengatasi masalah-masalah tersebut, misalnya dalam kejemuan dapat diatasi dengaan cerita.
e.       Diskusi, ada beberapa model yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut:
1)      Diskusi dua kelompok berhadapan
2)      Diskusi kelas bebas, guru memberi topik kemudian siswa mengemukakan pendapatnya sesuai topic tersebut
3)      Diskusi kelompok
4)      Diskusi panel
f.       Wawancara, wawancara sebagai suatu kegiatan dalam pelajaran berbicara, maka hal yang perlu diperhatikan yaitu pihak yang diwawancarai sudah mempersiapkan pokok masalah yang dibicarakan. Pewawancara harus memeprsiapkan pertanyaan-pertanyaan, guru bertugas membimbing kearah pemakaian kalimat. Kegiatan wawancara dapat dilakukan dalam bentuk, wawancara dengan tamu, wawancara dengan teman sekelas.
g.      Drama, dalam kegiatan ini tentunya ada beberapa siswa yang ditunjuk sebagai pemain, sedangkan bagi yang lainsebagai penonton. Dalam hal ini, penonton dapat memperoleh ospek reseptif (mendengarkan dan memahami). Tujuan latihan berbicara denga dramauntuk mengarahkan siswa kepada pemakaian kalimatdan ungkapan yang baik dan memupuk keberanian siswa
h.      Pidato, dalam kegiatan ini siswa sudah mempunyai pengalaman dalam kegitan berbicara, baik percajapan, bercerita, wawacara, diskusi. Karena pidato membutuhkan gaya bahasa yang lebih baik. Pengajar dalam hal ini harus mampu menanamkan keterlibatan pendengar dan pembicara, untuk mencapai ini guru dapat menghubungkan kegiatan mendengar dan menulis, misal siswa disuruh menulis ringkas isi pidato dari setiap pembicara


[1] Djago Tarigan, Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 58
[2] Ahmad Fuad Effendi. Metedologi Pengajaran Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2009), hal. 42-43
[3] Abdul Hamid. Pembelajaran Bahasa Arab, Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media (Malang: UIN-                  Malang Press, 2008) hal. 140-150

BONUS DEMOGRAFI

  Bonus Demografi Bonus demografi adalah usia produktif disuatu negara atau usia siap kerja (usia 15 – 64 tahun) lebih banyak daripada u...