BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kurikulum memegang kedudukan kunci
dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses
pendidikan, yang pada akhirnyamenentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu
lembaga pendidikan. Kurikulummenyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik
dalam lingkup kelas,sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Semua orang
berkepentingan dengankurikulum, sebab kita sebagai orang tua, sebagai warga
masyarakat, sebagai pemimpin formal ataupun informal selalu mengharapkan
tumbuh dan berkembangnya anak, pemuda, dan generasi muda yang lebih baik,
lebih cerdas,lebih berkemampuan. Kurikulum mempunyai andil yang cukup besar
dalammelahirkan harapan tersebut.Buku ini disusun dengan tujuan membantu para guru,
dosen, instruktur,widyaiswara, para pengembang, pengelola, penentu
kebijaksanaan, dan siapa sajayang terlibat dan berminat dalam pengembangan
kurikulum; untuk menambahwawasan tentang
apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum.Meskipun dalam buku
ini diusahakan menyajikan materi yang bervariasi dengancara penyajian yang moderat, tetapi mungkin saja sajian ini belum bisa
memenuhikebutuhan semua pihak..
Adapun dalam makalah ini kami akan membahas keterampilan berbahasa
secara lisan yang meliputi keterampilan menyimak dan berbicara, yang akan
dibahas lebih mendalam dalam makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Evaluasi Kurikulum dan
Peran Evaluasi Kurikulum?
2. Bagaimana
Implementasi dan Evaluasi Kurikulum?
3. Siapa saja evaluator
kurikulum?
4. Apa saja model
evalusai kurikulum?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk mengetahui
pengertian dari Evaluasi Kurikulum dan Peran Evaluasi
Kurikulum
2. Untuk mengetahui Implementasi
dan Evaluasi Kurikulum
3. Untuk mengetahui
siapa saja evaluator kurikulum
4. Untuk mengetahui
model evalusai kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Evaluasi Kurikulum dan Peran Evaluasi Kurikulum
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses
untuk menetukan nilai dari sesuatu[1].
Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha
untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran
sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan.[2] Tyler
seperti yang dikutip Sukmadinata menyatakan bahwa evaluasi adalah proses untuk
mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai atau terrealisasikan.
Sedangkan pengertian kurikulum, menurut Glatthorn dalam
buku Zaini adalah sebagai rencana yang dibuat untuk membimbing anak belajar di
sekolah, disjikan dalam bentuk dokumen yang sudah ditentukan, disusun
berdasarkan tingkat-tingkat generalisasi, dapat diaktualisasikan dalam kelas,
dapat diamati oleh pihak yang berkepentingan dan dapat membawa perubahan
tingkah laku.[3]
Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang
memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan kurikulum bersifat
organis, dan prosesnya secara evolusioner.[4] Evaluasi
merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahui
proses dan hasil pelaksanaan system pendidikan dalam mencapai tujuan yang
ditentukan.
Menurut Micheal Scriven dalam buku Nurgiantoro,
mengemukakan bahwa proses penilaian terdiri dari tiga komponen, yaitu pengumpulan
informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Ia mengartikan
evaluasi sebagai “proses memperoleh informasi, mempergunakannya sebagai bahan
pembuatan pertimbangan, dan selanjutnya sebagai dasar pembuatan keputusan”.
Tyler dalam buku Hamalik, berpendapat bahwa evaluasi kurikulu pada dasarnya
adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus
diberlakukan ke dalam empat tahap yaitu sebagai berikut:[5]
1. Evaluasi
tehadap tujuan pembelajaran.
2. Evaluasi
terhadap pelaksanaan kurikulum atau proses pembelajaran yang meliputi metode,
media dan evaluasi pembelajaran.
3. Evaluasi
terhadap evektifitas, baik evektifitas waktu, tenaga dan biaya.
4. Evaluasi
terhadap hasil yang telah dicapai.
Kegiatan
evaluasi kebutuhan dan kelayakan terhadap kurikulum adalah suatu keharusan yang
esensial dalam rangka pengembangan program kegiatan pendidikan pada umumnya dan
peningkatan kualitas siswa pada khususnya. Hal ini terkait dengan pengembangan
sumber daya manusia sebagai unsur utama pelaksanaan dan keberhasilan program
pendidikan yang pada gilirannya membutuhkan pengelola dan pelaksana yang mampu
menjalankan kegiatan pendidikan yang lebih berdaya.
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sebagai usaha
sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan
sebagai pertimbangan mengenai mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam
suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum
atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode
pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.
Secara sederhana, dapat disamakan dengan penelitian
karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan
prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian
terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan
menyajikan data untuk bahan penetuan
keputusan mengenai kurikulum apakah akan ada revisi atau diganti. Sedangkan
penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan,
menganalisis dan menyajikan data untuk mengui teori atau membuat teori baru.[6]
Evaluasi dan Kurikulum merupakan merupakan dua
disiplin yang memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan
kurikulum bersifat organis, dan prosesnya secara evolusioner. Evaluasi merupakan
kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahui proses dan
hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang ditentukan.
Dimana semua tidak terlepas dari adanya berbagai criteria, mulai dari yang
bersifat formal.
Evaluasi kurikulum memegang peran penting baik dalam
penentuan kebijakansanaan pendidikan pada umumnya, maupun dalam pengambilan
keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh
para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam
memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pegembangan
model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat
digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya,
dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran,
memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian, serta fasilitas
pendidikan lainnya.[7]
Beberapa hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan
dalam menentukan keputusan. Pihak pengambil keputusan dalam pelaksanann
pendidikan dan kurikulum adalah guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para
inspektur, pengembang kurikulum dan lain-lain. Namun demikian pada prinsipnya
tiap pengambil keputusan dalam proses evaluasi memegang peran yang berbeda,
sesuai dengan posisinya.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan
hasil evaluasi bagi pengambilan keputusan adalah hasil evaluasi yang diterima
oleh berbagai pihak pengambil keputusan adalah sama. Masalah yang timbul adalah
apakah hasil evaluasi tersebut dapat bermanfaat bagi semua pihak. Jawabannya
belum tentu, karena suatu informasi mungkin lebih bermanfaat bagi pihak tertentu
tetapi kurang bermanfaat bagi pihak yang lain.[8]
Kesatuan penilaian hanya dapat dicapai melalui suatu
konsesus. Konsesus tersebut berupa kerangka kerja penelitian yang dipusatkan
pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar yang bersifat behavioral,
analisis statistik dari prestasi tes post tes. Secara umum, langkah-langkah
pokok evaluasi pendidikan meliputi tiga kegiatan utama yaitu persiapa,
pelaksanaan dan pengolahan hasil.[9]
Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan
dengan tiga hal, yaitu sebagai berikut.[10]
1. Konsep
sebagai moral judgement
Konsep
utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu nilai berisi suatu
nilai yang akan digunakan untuk tndakan selanjutnya. Hal ini mengandung dua
pengertian yaitu:
a. Evaluasi
berisi suatu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi
daoat dinilai
b. Evaluasi
berisi suatu perangkat kriteria praktis yang berdasarkan criteria-kriteria
tersebutsuatu hasil dapat dinilai
2. Evaluasi
dan penentuan keputusan
Beberapa
hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan. Pihak
pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan dan kurikulum adalah guru,
murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembangan kurikulum dan
sebagainya.
3. Evaluasi
dan konsesus nilai
Kesatuan
penilaian dapat dicapai melalui suatu konsensus. Kosensus tersebut berupa
kerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran
prestasi belajar behavioral, analisis statistik dari prestasi tes dan post tes.
Ada dua dua kriteria dalam penilaian kurikulum:
a. Kriteria
berdasarkan tujuan yang telah ditentukan atau sering disebut criteria patokan
b. Kriteria
berdasarkan norma-norma atau standar yang ingin dicapai senagaimana adanya.
B.
Implementasi
dan Evaluasi Kurikulum
Kurikulum merupakan study intelektual yang cukup
luas. Banyak teori tentang kurikulum. Beberapa teori menekankan pada rencana,
pada inovasi, pada filosofi dan pada konsep-konsep yang diambil ari perilaku
manusia. Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas
teori-teori yang lebih menekankan pada evaluasi kurikulum, pada situasi
pendidikan sertapada organisasi kurikulum.[11]
Terdapat beberapa perbedaan penekanan dalam
kurikulum. Perbedaan penekanan dalam kurikulum tersebut mengakibatkan perbedaan
dalam pola rancangan dan dalam pengembangannya. Konsep kurikulum yang
menekankan isi memberikan perhatian besar pada analisis pengetahuan baru yang
ada. Konsep situasi menuntut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar.
Dan konsep organisasi memberikan perhatian besar pada struktur belajar.
Perbedaan-perbedaan dalam rancangan tersebut mempengaruhi langkah-langkah
selanjutnya.
Pengembangan kurikulum yang menekankan isi,
membutuhkan waktu mempersiapkan situasi belajar dan menyatukannya dengan tujuan pembelajaran yang cukup lama.
Kurikulum yang menekankan situasi waktu mempersiapkannya lebih pendek,
sedangkan kurikulum yang menekankan organisasi waktu persiapannya hamper sama
dengan kurikulum yang menekankan isi.
Kurikulum yang menekankan isi sangat mengutamakan
peran dimensi, mekipun umpamanya kurikulum itu kurang baik, mereka dapat
melaksanakannya melalui jalur birokrasi. Tipe kurikulum ini mengikuti model
penyebaran (difusi) dari pusat ke daerah. Sebaliknya, penyebaran kurikulum yang
menekankan situasi sangat mementingkan penyiapan unsur-unsur yang terkait.
Kurikulum yang menekankan organisasi, strategi penyebarannya sangat mengutamakan
guru.[12]
Kurikulum yang menekankan organisasi, strategi
penyebarannya sangat mengutamakan latihan guru. Penyebaran ini lebih merupakan
pembaharuan dari dalam dan bukan karena paksaan atau keharusan dari luar. CARE
(Centre for Applied Research in Education) di Universitas East Anglia Norwegia,
aktif dalam mengadakan pelatihan guru. Salah satu proyeknya yang pertama adalah
Nuffield/Schools Council Humanities Curriculum Projecttahun 1967. Proyek ini
disiapkan untuk meningkatkan usia anak yang meninggalkan sekolah, disediakan
bagi anak usia 14 sampai 16 tahun dan yang kecerdasannya di bawah rata-rata.
Banyak kesulitan yang dialami dalam proyek ini, yang paling kritis adalah
mengenai komunikasi antara tim proyek dengan guru-guru, para administrator, dan
para siswa. Proyek ini juga memiliki suatu tim evaluasi. Salah satu kesimpulan
dari hasil evaluasi mereka adalah hasil-hasil yang dicapai oleh guru-guru yang
terlatih (yang mengerti maksud serta latar belakang proyek) tidak dapat dicapai
oleh guru-guru yang tidak terlatih. Ini menunjukkan bahwa latihan guru memegang
peranan penting dalam penyebaran program. Model evaluasi kaitannya dengan teori
kurikulum.[13]
Dalam buku Nana Syaodih Sukmadinata mengatakan, pada
kurikulum yang menekankan organisasi, tugas evaluasi lebih sulit lagi, karena
isi dan hasil kurikulum bukan hal yang utama, yang utama adalah aktivitas dan
kemapuan siswa. Salah satu pemecahan bagi masalah ini adalah dengan pendekatan
Kurikulum Humaniti dari CARE. Dalam proyek itu dicari perbandingan materi
antara proyek yang menggunakan guru yang terlatih dengan yang tidak terlatih,
dalam evaluasinya juga diteliti pengaruh umum dari proyek, dengan cara
mengumpulkan bahan-bahan secara studi kasus dari sekolah-sekolah proyek.
Meskipun pendekatan perbandingan banyak memberikan hasil yang berharga, tetapi
meminta waktu terlalu banyak dari evaluator. Dalam perkembangan selanjutnya,
ternyata bahan-bahan dari hasil studi kasus memberikan hasil yang lebih
berharga bagi evaluasi kurikulum[14]
Perbedaan konsep dan strategi pengembangan dan
penyebaran kurikulum, juga menimbulkan perbedaan dalam rancangan evaluasi.
Model evaluasi yang berifat koperatif menekankan pada obyektif yang sangat
sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi. Pendekatan
yang bersifat goal free lebih
memungkinkan untuk mengevaluasi kurikulum yang menekankan pada situasi.
Pendekatan yang bersifat eklektif lebih cocok jika diterapkan dalam kurikulum
yang menekankan organisasi.[15]
C.
Evaluator
Kurikulum
Evaluasi kurikulum dilakukan oleh evaluator yang
telah memenuhi syarat atau kualifikasi. Tidak semua orang boleh menjadi
evaluator, kecuali orang-orang yang memang berkompeten di bidang kurikulum.
Syarat-syarat tersebut antara lain adalah:[16]
1. Orang
yang memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi baik secara teoritis maupun
keterampilan praktis.
2. Mempunyai
kecermatan yang dapat melihat celah-celah dan detail serta bagian-bagian
kurikulum.
3. Bersikap
obyektif dan tidak mudah terpengaruh oleh keinginan dan kepentingan pribadi
sehingga dapat mengambil data dan kesimpulan yang sesuai dengan ketentuan.
4. Sabar,
tekun dan tidak gegabah dalam menjalankan tugas mulai perencanaan kegiatan,
menyusun instrument, mengumpulkan data dan menyusun laporan.
5. Hati-hati
dalam menjalankan pekerjaan evaluasi dan bertanggung jawab terhadap segala
tugas dan resiko kesalahan yang diperbuat
Evaluator
kurikulum dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut:[17]
1. Evaluator
dalam (internal evaluator)
Evaluator
dalam adalah pelaksanaan evaluasi kurikulum yang sekaligus berasal dari lembaga
yang akan dievaluasi.
Kelebihan
evaluator dalam adalah evaluasi menjadi tepat sasaran karena evaluator sangat
memahami dan menguasai kurikulum yang akan dievaluasi. Hemat dari segi
pendanaan, karen lembaga yang dievaluasi tidak perlu mengeluarkan banyak dana
untuk membayar evaluator kurikulum.
Kelemahan
evaluator dalam adalah adanya kemungkinan subyektifitas dari evaluator, yang
hanya akan menyampaikan kepentingan pribadi. Kemungkinan adanya sikap tidak
cermat evaluasi menurut versi dirinya
2. Evaluator
luar (external evaluator)
Evaluator
adalah evaluator yang berasal dan berada di luar lembaga yang akan dievaluasi
dan tidak terlibat dalam implementasi kurikulum. Diharapkan evaluator ini mampu
bertindak dan mampu bersikap independent, karena tidak memiliki kepentingan
pribadi. Kelebihan evaluator luar adalah lebih obyektif dalam melaksanakan
evaluasi karena ia tidak berkepentingan mengenai kategori keberhsilan atau
kegagalan implementasi kurikulum yang telah berjalan. Apapun hasil evaluasi
tidak akan direspon secara emosional oleh evaluator luar karena ia tidak ingin
memperlihatkan bahwa kurikulum tersebut berhasil dengan baik. Kesimpulan yang
akan diambil dan dibuat lebih sesuai dengan keadaan dan kenyataan.
Kelemahan
evaluator luar antara lain adalah kurangnya pemahaman terhadap seluk beluk dan
seluruh aspek kurikulum memungkinkan kesimpulan yang diambil kurang tepat.
Pemborosan dana kerena pihak pengambil kebijakan harus mengeluarkan dana yang
besar untuk membayar evaluator luar.
Mengingat
masing-masing evaluator baik evaluator dalam mapun luar, memiliki beberapa
kelebihan dan kelemahan, maka sebaiknya dianjurkan evaluator itu gabungan dari
dalam dan dari luar. Dengan demikian evaluator dalam bisa memberikan penjelasan
dan pemahaman kepada evaluator luar tentang segala hal yang berhubungan dengan
kurikulum. Hal ini menguntungkan pengambil kebijakan kere\na tidak perlu
mengeluarkan banyak dana, dan menguntungkan bagi pelaksana kurikulum atau
lembaga yang dievaluasi karena ada pihak dalam yang terlibat, yang tentu lebih
memahami kurikulum tersebut dari pada orang luar.
Evaluator
hendaknya terlebih dahulu mempelajari, menelaah dan mendalami seluruh aspek
kurikulum yang akan dievaluasi, agar kesimpulan yang diambil tepat dan tidak
merugikan pihak tertentu. Evaluator sering menghadapi delima pertimbangan etis,
dalam menjalankan tugasnya seperti yang disinyalir Ronal G. Schnee dalam buku
Muhammad Zaini yang menyebutkan beberapa
hal antara lain:[18]
1. Otonomi
yang berkaitan dengan pelaksanaan program kurikulum, misalnya kepala sekolah
dan guru. Mereka tentu akan menyanjung program kurikulum ketika diminta untuk
mengevaluasi.
2. Hubungan
dengan klien, artinya evaluator ketika menjalankan tugasnya harus bekerja sama
dengan klien atau pelaksana kurikulum di suatu sekolah.
3. Evaluator
dalam melaksanan tugasnya tidak boleh mengabaikan fakta politik dan konteks
sosial, sehingga hasil kerja evaluasi kurikulum itu dapat bermafaat.
4. Evaluator
dalam dalam melaksanakan evaluasi tidak mungkin melepaskan diri dari
nilai-nilai atau norma yang dianut dan dijadikan pedoman hidupnya.
5. Evaluator
hendaknya memilih dan mempertimbangkan rancangan dan metodologi, untuk
mendapatkan hasil yang maksimal.
6. Memberikan
kesempatan kepada orang lain untuk menelaah kembali (review) terhadap rancangan
evaluasi, guna mengurangi adanya bias dan pemborosan.
7. Evaluator
hendaknya dengan jujur mencantumkan penjelasan tentang keterbatasan dan
hambatan selama proses evaluasi berlangsung.
8. Evaluator
perlu menyertakan hasil evaluasi negativ agar data yang dilaporkan bermanfaat
bagi peningkatan program berikutnya.
9. Penyebar
luasan hasil evaluasi, karena tujuan evaluasi adalah untuk mengumpulkan
informasi bagi tindak lanjut program.
10. Evaluasi
tidak boleh melanggar hal-hal yang dilindungi sesuai dengan peraturan yang ada.
11. Pelaksanaan
program boleh menolak evaluator dengan alasan tertentu.
D.
Model
Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas,
meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan
suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan
suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi.
Macam-macam model evaluasi yang digunakan bertumpu
pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model
evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi
yang berorentasi tujuan berkaitan erat dengan meteri dan tingkah laku individu.
Evaluasi yang menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan
pada bahan ajar atau isi kurikulum. Model atau pedekatan antropologis dalam
evaluasi ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam suatu lembaga
social. Dengan demikian, sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara
evaluasi dengan kurikulum sebab teori kurikulum juga merupakan teori dari
evaluasi kurikulum.
Ada beberapa model dalam evaluasi kurikulum, yaitu
sebagai berikut:[19]
1.
Evaluasi
kurikulum model penelitian (research evaluation model)
Model
evaluasi kurikulum yang menggunakan penelitian didasarkan atas teori dan metode
tes psikologi serta ekperimen lapangan. Salah satu pendekatan dalam evalusai yang
menggunakan eksperimen lapangan adalah comparative
approach, yaitu dengan mengadakan perbandingan antara dua macam kelompok
anak.
Model
evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan
metode tes psikologi dan serta eksperimen lpangan.[20]
Tes psikologi atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes
intelegensi yang ditunjukkan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes bawaan
yang mengukur perilaku skolastik.
Ada
beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut. Pertama, kesulitan administrative,
sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. Kedua, masalah teknis dan logis, yaitu
kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang
diuji. Ketiga, sukar untuk
mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok
control, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol. Keempat, ada keterbatasan mengenai manipulasieksperimen yang dapat
dilakukan.
2.
Model
evaluasi kurikulum yang berorientasi pada tujuan (goal/objective oriented
evaluation model)
Dalam
model ini, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses
pengembangan kurikulum. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain,
tetapi diukur dengan seperangkat tujuan atau kompetensi tertentu. Keberhasilan
pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan atau
kompetensi tersebut.
Ada
beberapa persyaratan yang harus dipeuhi oleh tim pengembang model obyektif,
yaitu sebagai berikut:[21]
a. Ada
kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum
b. Merumuskan
tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa
c. Menyusun
materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
d. Mengukur
kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan
Dasar-dasar
teori Tvlor dan Bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan
kurikulum, dan mencapai puncaknya dalam system belajar berprogram dan system
instruksional. Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI (Individually Prescribed Instruction). Dalam IPI anak mengikuti
kurikulum yang mengikuti 7 unsur, yaitu:
a. Tujuan-tujuan
pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit
b. Suatu
prosedur program testing
c. Pedoman
prosedur penulisan
d. Materi
dan alat-alat pengajaran
e. Kegiatan
guru dalam kelas
f. Kegiatan
murid dalam kelas
g. Prosedur
pengelolaan kelas.
3.
Model
evaluasi kurikulum yang lepas dari tujuan (goal free evaluation model)
Model
ini dikembangkan oleh Micheal Scriven, yang cara kerjanya berlawanan dengan
model evaluasi yang berorientasi pada tujuan. Menurut pendapat Scriven, seorang
evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yang
perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanya.[22]
Cara dengan memperhatikan dan mengidentifikasi penampilan yang terjadi, baik
hal-hal positiv yang diharapkan maupun hal-hal negativ yang tidak diinginkan.
4.
Model
campuran multivariasi
Model
campuran multifariasi adalah strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari
beberapa model evaluasi kurikulum. Model ini memungkinkan perbandingan lebih
dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur
berdasarkan criteria khusus dari masing-masimg kurikulum.
Langkah-langkah
yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini yaitu:
a. mencari
dan menentukan sekolah yang berminat
untuk dievaluasi atau diteliti.
b. Pelaksanaan
program, bila tidak ada percampuran sekolah, maka tekanannya pada partisipasi
yang optimal.
c. Semetra
tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya dengan
menggunakan metode global dan metode unsur, dapat disiapkan tes tambahan.
d. Bila
semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan computer.
e. Tipe
analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dari beberapa
variable yang berbeda.[23]
Beberapa
kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multivareasi ini adalah:
a. Diharapkan
memberikan tes statistic yang signifikan.
b. Terlalu
banyaknya variable yang perlu dihitung pada suatu saat.
c. Meskipun
model ini telah mengurangi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan
tetapi tetap menghadapi masalah-masalah pembandingan.
5.
Model
evaluation program for innovate curriculumbs (EPIC)
Model ini menggambarkan keseluruhan
program evaluasi kurikulum dalam sebuah kubus. Kubus ini memiliki tiga bidang,
bidang pertama adalah perilaku (behavior) yang meliputi perilaku cognitive,
affective, psychomotor. Bidang kedua adalah pembelajaran (instruction), yang
meliputi organisasi, materi, metode fasilitas atau sarana dan pendanaan. Bidang
ketiga adalah kelembagaan (institution) yang meliputi guru, murid,
administrasi, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat.
6.
Model
CIPP (Contex, Input, Procces, and Product)
Model ini dikembangkan oleh
Stufflebeam (1967) dan kawan-kawan di Ohio State University AS dan model ini
paling banyak diikuti oleh para evaluator. Model ini memandang bahwa kurikulum
yang dievaluasi adalah sebuah sistem, maka apabila evaluator telah menentukan
untuk menggunakan model CIPP, maka evaluator harus menganalisis kurikulum
tersebut berdasarkan komponen-komponen model CIPP.
Model ini mengemukakan bahwa untuk
melakukan penilaian terhadap program pendidikan diperlakuakan empat macam jenis
yaitu:
a. Penilaian
konteks (context)yang bekaitan dengan tujuan.
Penilaian konteks adalah upaya
untuk menggambarkan dan merinci lingkungan,
kebutuhan, populasi dan sample yang dilayani serta tujuan pembelajaran.
Kebutuhan siswa apa saja yang belum terpenuhi, tujuan apa saja yang belum
tercapai dan tujuan apa saja yang belum tercapai.
b. Penilaian
masukan (input) yang berguna untuk pengambilan k eputusan desain.
Maksud evaluasi ini adalah
kemampuan siswa dan kemapuan sekolah dalam menunjang pendidikan.
c. Penilaian
proses (process) yang membimbing langkah operasional dalam pembuatan keputusan.
Penilaian ini menunjukkan pada
kegiatan yang dilakukan dala program, apakah pelaksanaan kurikulum tetap
sanggup melakukan tugasnya, siapa yang bertanggung jawab melaksanakannya, dan
lain-lain.
d. Penilaian
keluaran yang memberikan data sebagai tambahan erbuatan keputusan (product).
Penilaian keluaran adalah tahap
akhir serangkaian evaluasi program kurikulum, yang diarahkan pada hal-hal yang
menunjukkan perubahan yang terjadi pada siswa.
7.
Model
Ten Brink
Ten Brink mengemukakan adanya tiga
tahap evaluasi kurikulum yaitu; pertama, tahap persiapan, adapun langkah –
langkahnya sebagai berikut:[24]
a. Melukiskan
secara spesifik pertimbangan dan keputusan yang dibuat.
b. Melukiskan
informasi yang diperlukan.
c. Memanfaatkan
informasiyang ada
d. Menentukan
kapan dan bagaimana cara memperoleh informasi
e. Menyusun
dnn memilih instrument pengumpulan informasi yang digunakan.
Kedua, tahap pengumpuln data
melalui dua langkah yaitu memperoleh informasi yang diperlukan dan menganalisis
dan mencatat informasi. Ketiga, tahap penilaian yang berisi keiatan – kegiatan
sebgai berikut:
a. Membuat
pertimbangan yang digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan
b. Membuat
keputusan yang merupakan suatu pilihan beberapa alternatif tindakan
c. Mengikhtisarkan
dan melaporkan hasil penilaian
8.
Model
Pendekatan Proses
Evaluasi
kurikulum model pendekatan proses ini tumbuh dan berkembang secara kualitatif,
yang menjadi pendekatan yang penting. Karakteristik model ini adalah:[25]
a. Kriteria
yang digunakanuntuk evaluasi tidak dikembangkan sebelum pelaksanaan (evaluator)
berada di lapangan.
b. Sangat
peduli dengan masalah yang dihadapi oleh para pelaksana kurikulum.
c. Evaluasi
yang dilakukan terhadap kurikulum adalah merupakan satu kesatuan yang utuh,
tidak terpecah belah dalam bagian-bagian tertentu.
Adapun
prosedur evaluasi kurikulum model pendekatan proses adalah sebagai berikut:
a. Pengumpulan
data dari berbagai sumber, misalnya kepala sekolah atau madrasah, guru dan
tenaga kependidikan
b. Menganalisis
data setelah data terkumpul dari berbagai sumber
c. Pengambilan
keputusan dan berpijak pada kelebihan dan kekurangan suatu kurikulum, sehingga
akan melahirkan pemikiran alternativ untuk perbaikan atau inovasi kurikulum.
9.
Model
Evaluasi Kuantitatif[26]
Model
kuantitatif ditandai oleh cirri yang menonjol dalam penggunaan prosedur
kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran
paradigma positivisme. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, paradigma
positivism menjadi tradisi keilmuan dalm evaluasi terutama melalui tradisi
psikometrik.
Hal
lain yang dapat dikemukakan mengenai model-model kuantitatif ini ialah
persamaan mereka dalam fokus evaluasi yaitu pada kurikulum dimensi hasil
belajar. Ada beberapa macam dalam model evaluasi kuantitatif yaitu:
a. Model
balck box Tyler
Model
Tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan oleh
pengembangnya. Tyler, yang mengajukan model ini menuliskan buah pikirannya
tersebut tidak dalam satu tulisan lepas mengenai evaluasi kurikulum. Buku yang
diberi judul Basic principles of
curriculum and instruction ditulis ketika ia bertugas sebagai professor di
Universitas Chicago.
Model
yang dikemukakan dibangun atas dua dasar, yaitu: evalusai yang ditunjukkan
kepada tingkah laku peserta didik dan evaluasi harus dilakukan pada tingkah
laku awal peserta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada saat
peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut.
Dengan
dasar evaluasi yang kedua, Tyler menghendaki evaluator dapat menetukan
perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar yang diperoleh dari kurikulum.
Dalam pelaksanaannya, Tyler mengemukakan ada tiga prosedur utama yang harus
dilakukan yaitu:
·
Menentukan
tujuan kurikulum yang akan di evaluasi
·
Menentukan
situasi di mana peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan
tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan
·
Menentukan alat
evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.
Model
evluasi Tyler memiliki keunggulan dalam kesederhanaannya. Evaluator dapat
memvokuskan kajian evaluasinya hanya pada satu dimensi kurikulum yaitu dimensi
hasil belajar. Keunggulan model Tyler pada sisi lain menjadi titik lemah model
ini. Fokus pada hasil belajar dan mengabaikan dimensi proses adalah sesuatu
yang tidak sejalan dengan pendidikan.
Faktor
lain yang menyebabkan kelemahan model ini adalah kenyataan yang diungkapkan
oleh banyak studi yang mengkaji dimensi proses. Kenyataan yang terungkap dari
hasil studi tentang proses ini menyebabkan sukar untuk melakukan claim bahwa hasil yang diperlihatkan
oleh peserta didik adalah hasil yang ditimbulkan kurikulum yang dievaluasi
b. Model
teoritik Taylor dan Maguire
Model
ini lebih mendasarkan dirinya pada pertimabangan teoritik suatu model evaluasi
kurikulum. Unsur-unsur yang ada dalam model ini seperti sumber sosial tujuan,
tujuan yang dikembangkan berdasarkan pendekatan behavioral, pengembangan strategi dan semangat psikometrik kiranya
merupakan pengaruh Tyler yang mungkin tidak didasari Taylor dan Maguire.
Berdasarkan
Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan tersebut maka satuan pendidikan
mengembangkan visi dan tujuan yang ingin dicapai satuan pendidikan tersebut.
Tugas tugas tersebut yaitu:
·
Menjadi
pengembang tanggung jawab para pengembang kurikulum ditigkat satuan pendidikan
·
Mencari data
mengenai keserasian antara tujuan umum dengan tujuah behavioral dan hasilnya
dimasukkan menjadi vektor lanjur matrik penafsiran
·
Mengevaluassi
pengembangan tujuan tersebut menjadi pengalaman belajar.
c. Model
pendekatan sistem Alkin
Pendekatan
ini memiliki keunikan dibandingkan pakar evaluasi lainnya dimana ia memasukkan
unsur pendekatan ekonomi mikro dalam pekerjaan evaluasi. Model ini dikembangkan
berdasarkan empat asumsi yaitu:
·
Variable
perantara adalah merupakan satu-satunya kelompok varabel yang dapat
dimanipulasi.
·
Sistim luar
tidak langsung dipenaruhi oleh keluaran sistim
·
Para pengambil
keputusan sekolah tidak memiliki kontrol mengenai pengaruh yang diberikan
sistim luar.
·
Faktor masukkan
mempengaruhi aktivitas faktor perantara
Pada
dasarnya, model pendektan system Alkin dapat digunakan untuk melakukan kajian
mengenai kurikulum di Indonesia terlebih-lebih ketika satuan pendidikan telah
memiliki KTSP. Kekuatan model ini adalah keterkaitannya dengan sistem. Evaluasi
suatu satuan pendidikan yang masing-masing sangat dimungkiinkan karena setiap
satuan pendidikan itu merupakan unit yang dikendalikan secara khusus dengan berlakunya
manajemen berbasis sekolah.
Kelemahan
model ini terutama keterbatasannya dalam fokus kajian. Model ini hanya dapat
digunakan untuk mengevaluasi kurikulum yang sudah siap dilaksanakan oleh
sekolah. Dala situasi pengembangan kurikulum yang sekarang (KTSP) model ini
dapat digunakan setelah kurikulum tersebut berhasil dikembangkan dan siap
dilaksanakan di satuan pendidikan tersebut.
d. Model
countenance stake
Model
ini adalah model pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan Stake. Stake
mengemukakan keseluruhan keiatan evaluasi yang harus dilakuakan dengan cara
yang diinginkan bagaimana evaluasi tersebut dilakukan. Dalam buku ini model
Stake dikelompokkan sebagai model evaluasi kuntitatif karena pada awalnya model
ini dikembangkan dengn pendekatan kuantitatif. Tapi, apabila kemudian
adaevaluator yang ingin menggunakan model ini dengan pendekatan kualitatif
tentu saja.
10. Model Ekonomi
Mikro[27]
Model
ekonomi mokro pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan
kuantitatif. Sebagaimana kebanyakan model kuantitatif, model ekonomi mikro
memiliki fokus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil belajar dan hasil
yang diperkirakan).
Dalam
mengukur hasil, digunakan suatu instrument yang sudah ditandarisasi. Penggunaan
instrumen standar penting karena hanya dengan demikian perbandingan antara
biaya dengan hasil dapat dilakukan secara berimbang. Kurikulum lain yang
dikembangkan oleh satuan pendidikan lain mungkin didasarkan atas ide yng
berbeda. Dalam pandangan teoritikkurikulum satuan pendidikan tersebut dinyatakan baahwa seseorang yang
telah menyelesaikan studinya harus memiliki pengetahuanyang cukup untuk dapat
hidup produktif di masyarakat.
Persoalan
mengenai persamaan tujuan kurikulum yang akan dibandinkan tidak akan dialami oleh
evaluator yang akan menerapkan model cost-benefit. Hal penting lainnya ialah
bahwa skala penilaian tersebut diukur pada pengukuran interval dan bukan
ordinal.
Model
terakhir dari kelompok mikro ekanomi ialah yang dinamakan model
cost-feasibility. Berbeda dengan ketiga model terdahulu, model ini tidak
berusaha mencari hubungan antara biaya dengan hasil tertentu. Perhitungan biaya
masa depan perlu diperhitungkan agar kurikulum yang dikembangkan tersebut
mendapat jaminan dalam implementasinya.
11. Model Evaluasi
Kualitatif[28]
Ciri
khas dari model evaluasi kualitatif adalah selalu menempatkan proses
pelaksanaankurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh karena itu kurikulum
dalam dimensi kegiatan atau proses lebih mendapatkan perhatian dibandingkan
dimensi lain suatu kurikulum walaupun harus dikatakan bahwa perhatian utama
terhadap proses dimensi lain.
Model
utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Demikian kuatnya posisi studi
kasus sebagai model utama dilingkungan evaluasi kualitatif sehingga setiap
orang berbicara tentang model evaluasi kualitatif maka nama studi kasus segera
muncul dalam kontak memorinya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sebagai usaha
sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan
sebagai pertimbangan mengenai mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam
suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum
atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode
pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. Secara sederhana, dapat
disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian
yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan
antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk
mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penetuan keputusan mengenai kurikulum apakah
akan ada revisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih
luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk
mengui teori atau membuat teori baru.
Kurikulum merupakan study intelektual yang cukup
luas. Banyak teori tentang kurikulum. Beberapa teori menekankan pada rencana,
pada inovasi, pada filosofi dan pada konsep-konsep yang diambil ari perilaku
manusia. Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas
teori-teori yang lebih menekankan pada evaluasi kurikulum, pada situasi
pendidikan sertapada organisasi kurikulum. Terdapat beberapa perbedaan penekanan
dalam kurikulum. Perbedaan penekanan dalam kurikulum tersebut mengakibatkan
perbedaan dalam pola rancangan dan dalam pengembangannya. Konsep kurikulum yang
menekankan isi memberikan perhatian besar pada analisis pengetahuan baru yang
ada. Konsep situasi menuntut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar.
Dan konsep organisasi memberikan perhatian besar pada struktur belajar.
Perbedaan-perbedaan dalam rancangan tersebut mempengaruhi langkah-langkah
selanjutnya
Evaluasi kurikulum dilakukan oleh evaluator yang
telah memenuhi syarat atau kualifikasi. Tidak semua orang boleh menjadi
evaluator, kecuali orang-orang yang memang berkompeten di bidang kurikulum.
Evaluator kurikulum dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu sebagai
berikut:
3. Evaluator
dalam (internal evaluator)
Pelaksanaan
evaluasi kurikulum yang sekaligus berasal dari lembaga yang akan dievaluasi.
4. Evaluator
luar (external evaluator)
Macam-macam
model evaluasi yang digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang
diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat
komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang
menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan
ajar atau isi kurikulum. Model atau pedekatan antropologis dalam evaluasi
ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam suatu lembaga social
1. Evaluasi
kurikulum model penelitian (research evaluation model)
2. Model
evaluasi kurikulum yang berorientasi pada tujuan (goal/objective oriented
evaluation model)
3. Model
evaluasi kurikulum yang lepas dari tujuan (goal free evaluation model)
4. Model
campuran multifariasi
5. Model
evaluation program for innovate curriculumbs (EPIC)
6. Model
CIPP (Contex, Input, Procces, and Product)
7. Model
Ten Bink
B. Saran
Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kekurangan karena keterbatasan saya sebagai manusia biasa, untuk itu kritik dan saran
amat kami harapkan demi kesempurnaan kami dalam menyelesaikan tugas-tugas
dimasa yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Wayan
Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, Surabaya:
Usaha Nasional, 1986
Muhammad Zaini, Pengembangan
Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi, Yogyakarta: TERAS, 2009
Ahmad
dkk, Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Pustaka Setia, 1989
Suharsimi Arikunto dan Cepe Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teorotis
dan Praktis bagi Praktis Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1997
Omar
Homalik, Evaluasi Kurikulum,Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1990
http://blog.elearning.unesa.ac.id/antok-saivul-huda/definisi-tujuan-dan-fungsi-evaluasi-kurikulum.
diakses
tanggal 09-05-2012
Nana
Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan
Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996
M.
Chabib Toha, Teknik Evaluasi Pendidikan,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1997
http://popeye-hijau.blogspot.com/2010/09/model-evaluasi-kurikulum.html.
diakses 09-05-2012
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1993
Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembanagan Kurikulum Sekolah, Yoyakarta: BPFE, 1998
Hamid
Hasan, Evaluasi Kurikulum, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2008
[1] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1986), hal. 1
[2] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi
Evaluasi dan Inovasi, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hal. 104
[3]
Ahmad dkk, Pengembangan Kurikulum, (Bandung:
Pustaka Setia, 1989), hal. 15
[4] Suharsimi Arikunto dan Cepe
Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program
Pendidikan Pedoman Teorotis dan Praktis bagi Praktis Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara, 1997), hal. 4
[5]
Omar Homalik, Evaluasi Kurikulum,(Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1990), hal. 52
[6] http://blog.elearning.unesa.ac.id/antok-saivul-huda/definisi-tujuan-dan-fungsi-evaluasi-kurikulum. diakses tanggal 09-05-2012
[7]
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di
Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), hal. 172
[8]
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 146
[9]
M. Chabib Toha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 18
[10] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, (Surabaya:
eLKAF, 2006) hal. 105
[12] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik,
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 170
[14] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, hal. 178
[15] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 148
[18] Ibid, hal. 151
[19] Ibid, hal. 152
[20]
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, hal. 185
[21] Ibid, hal. 186
[22]
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1993), hal. 122
[23]Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 154
[24]
Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembanagan Kurikulum Sekolah,
(Yoyakarta: BPFE, 1998), hal. 191
[25]
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 158
[26]
Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008), hal. 187
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kurikulum memegang kedudukan kunci
dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses
pendidikan, yang pada akhirnyamenentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu
lembaga pendidikan. Kurikulummenyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik
dalam lingkup kelas,sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Semua orang
berkepentingan dengankurikulum, sebab kita sebagai orang tua, sebagai warga
masyarakat, sebagai pemimpin formal ataupun informal selalu mengharapkan
tumbuh dan berkembangnya anak, pemuda, dan generasi muda yang lebih baik,
lebih cerdas,lebih berkemampuan. Kurikulum mempunyai andil yang cukup besar
dalammelahirkan harapan tersebut.Buku ini disusun dengan tujuan membantu para guru,
dosen, instruktur,widyaiswara, para pengembang, pengelola, penentu
kebijaksanaan, dan siapa sajayang terlibat dan berminat dalam pengembangan
kurikulum; untuk menambahwawasan tentang
apa, mengapa, dan bagaimana pengembangan kurikulum.Meskipun dalam buku
ini diusahakan menyajikan materi yang bervariasi dengancara penyajian yang moderat, tetapi mungkin saja sajian ini belum bisa
memenuhikebutuhan semua pihak..
Adapun dalam makalah ini kami akan membahas keterampilan berbahasa
secara lisan yang meliputi keterampilan menyimak dan berbicara, yang akan
dibahas lebih mendalam dalam makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Evaluasi Kurikulum dan
Peran Evaluasi Kurikulum?
2. Bagaimana
Implementasi dan Evaluasi Kurikulum?
3. Siapa saja evaluator
kurikulum?
4. Apa saja model
evalusai kurikulum?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk mengetahui
pengertian dari Evaluasi Kurikulum dan Peran Evaluasi
Kurikulum
2. Untuk mengetahui Implementasi
dan Evaluasi Kurikulum
3. Untuk mengetahui
siapa saja evaluator kurikulum
4. Untuk mengetahui
model evalusai kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Evaluasi Kurikulum dan Peran Evaluasi Kurikulum
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses
untuk menetukan nilai dari sesuatu[1].
Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha
untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran
sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan.[2] Tyler
seperti yang dikutip Sukmadinata menyatakan bahwa evaluasi adalah proses untuk
mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai atau terrealisasikan.
Sedangkan pengertian kurikulum, menurut Glatthorn dalam
buku Zaini adalah sebagai rencana yang dibuat untuk membimbing anak belajar di
sekolah, disjikan dalam bentuk dokumen yang sudah ditentukan, disusun
berdasarkan tingkat-tingkat generalisasi, dapat diaktualisasikan dalam kelas,
dapat diamati oleh pihak yang berkepentingan dan dapat membawa perubahan
tingkah laku.[3]
Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang
memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan kurikulum bersifat
organis, dan prosesnya secara evolusioner.[4] Evaluasi
merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahui
proses dan hasil pelaksanaan system pendidikan dalam mencapai tujuan yang
ditentukan.
Menurut Micheal Scriven dalam buku Nurgiantoro,
mengemukakan bahwa proses penilaian terdiri dari tiga komponen, yaitu pengumpulan
informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Ia mengartikan
evaluasi sebagai “proses memperoleh informasi, mempergunakannya sebagai bahan
pembuatan pertimbangan, dan selanjutnya sebagai dasar pembuatan keputusan”.
Tyler dalam buku Hamalik, berpendapat bahwa evaluasi kurikulu pada dasarnya
adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus
diberlakukan ke dalam empat tahap yaitu sebagai berikut:[5]
1. Evaluasi
tehadap tujuan pembelajaran.
2. Evaluasi
terhadap pelaksanaan kurikulum atau proses pembelajaran yang meliputi metode,
media dan evaluasi pembelajaran.
3. Evaluasi
terhadap evektifitas, baik evektifitas waktu, tenaga dan biaya.
4. Evaluasi
terhadap hasil yang telah dicapai.
Kegiatan
evaluasi kebutuhan dan kelayakan terhadap kurikulum adalah suatu keharusan yang
esensial dalam rangka pengembangan program kegiatan pendidikan pada umumnya dan
peningkatan kualitas siswa pada khususnya. Hal ini terkait dengan pengembangan
sumber daya manusia sebagai unsur utama pelaksanaan dan keberhasilan program
pendidikan yang pada gilirannya membutuhkan pengelola dan pelaksana yang mampu
menjalankan kegiatan pendidikan yang lebih berdaya.
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sebagai usaha
sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan
sebagai pertimbangan mengenai mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam
suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum
atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode
pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.
Secara sederhana, dapat disamakan dengan penelitian
karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan
prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian
terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan
menyajikan data untuk bahan penetuan
keputusan mengenai kurikulum apakah akan ada revisi atau diganti. Sedangkan
penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan,
menganalisis dan menyajikan data untuk mengui teori atau membuat teori baru.[6]
Evaluasi dan Kurikulum merupakan merupakan dua
disiplin yang memiliki hubungan sebab akibat. Hubungan antara evaluasi dan
kurikulum bersifat organis, dan prosesnya secara evolusioner. Evaluasi merupakan
kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus, untuk mengetahui proses dan
hasil pelaksanaan sistem pendidikan dalam mencapai tujuan yang ditentukan.
Dimana semua tidak terlepas dari adanya berbagai criteria, mulai dari yang
bersifat formal.
Evaluasi kurikulum memegang peran penting baik dalam
penentuan kebijakansanaan pendidikan pada umumnya, maupun dalam pengambilan
keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh
para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam
memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pegembangan
model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat
digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya,
dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran,
memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian, serta fasilitas
pendidikan lainnya.[7]
Beberapa hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan
dalam menentukan keputusan. Pihak pengambil keputusan dalam pelaksanann
pendidikan dan kurikulum adalah guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para
inspektur, pengembang kurikulum dan lain-lain. Namun demikian pada prinsipnya
tiap pengambil keputusan dalam proses evaluasi memegang peran yang berbeda,
sesuai dengan posisinya.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan
hasil evaluasi bagi pengambilan keputusan adalah hasil evaluasi yang diterima
oleh berbagai pihak pengambil keputusan adalah sama. Masalah yang timbul adalah
apakah hasil evaluasi tersebut dapat bermanfaat bagi semua pihak. Jawabannya
belum tentu, karena suatu informasi mungkin lebih bermanfaat bagi pihak tertentu
tetapi kurang bermanfaat bagi pihak yang lain.[8]
Kesatuan penilaian hanya dapat dicapai melalui suatu
konsesus. Konsesus tersebut berupa kerangka kerja penelitian yang dipusatkan
pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar yang bersifat behavioral,
analisis statistik dari prestasi tes post tes. Secara umum, langkah-langkah
pokok evaluasi pendidikan meliputi tiga kegiatan utama yaitu persiapa,
pelaksanaan dan pengolahan hasil.[9]
Peran evaluasi kurikulum dalam pendidikan berkenaan
dengan tiga hal, yaitu sebagai berikut.[10]
1. Konsep
sebagai moral judgement
Konsep
utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu nilai berisi suatu
nilai yang akan digunakan untuk tndakan selanjutnya. Hal ini mengandung dua
pengertian yaitu:
a. Evaluasi
berisi suatu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi
daoat dinilai
b. Evaluasi
berisi suatu perangkat kriteria praktis yang berdasarkan criteria-kriteria
tersebutsuatu hasil dapat dinilai
2. Evaluasi
dan penentuan keputusan
Beberapa
hasil evaluasi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan. Pihak
pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan dan kurikulum adalah guru,
murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembangan kurikulum dan
sebagainya.
3. Evaluasi
dan konsesus nilai
Kesatuan
penilaian dapat dicapai melalui suatu konsensus. Kosensus tersebut berupa
kerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran
prestasi belajar behavioral, analisis statistik dari prestasi tes dan post tes.
Ada dua dua kriteria dalam penilaian kurikulum:
a. Kriteria
berdasarkan tujuan yang telah ditentukan atau sering disebut criteria patokan
b. Kriteria
berdasarkan norma-norma atau standar yang ingin dicapai senagaimana adanya.
B.
Implementasi
dan Evaluasi Kurikulum
Kurikulum merupakan study intelektual yang cukup
luas. Banyak teori tentang kurikulum. Beberapa teori menekankan pada rencana,
pada inovasi, pada filosofi dan pada konsep-konsep yang diambil ari perilaku
manusia. Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas
teori-teori yang lebih menekankan pada evaluasi kurikulum, pada situasi
pendidikan sertapada organisasi kurikulum.[11]
Terdapat beberapa perbedaan penekanan dalam
kurikulum. Perbedaan penekanan dalam kurikulum tersebut mengakibatkan perbedaan
dalam pola rancangan dan dalam pengembangannya. Konsep kurikulum yang
menekankan isi memberikan perhatian besar pada analisis pengetahuan baru yang
ada. Konsep situasi menuntut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar.
Dan konsep organisasi memberikan perhatian besar pada struktur belajar.
Perbedaan-perbedaan dalam rancangan tersebut mempengaruhi langkah-langkah
selanjutnya.
Pengembangan kurikulum yang menekankan isi,
membutuhkan waktu mempersiapkan situasi belajar dan menyatukannya dengan tujuan pembelajaran yang cukup lama.
Kurikulum yang menekankan situasi waktu mempersiapkannya lebih pendek,
sedangkan kurikulum yang menekankan organisasi waktu persiapannya hamper sama
dengan kurikulum yang menekankan isi.
Kurikulum yang menekankan isi sangat mengutamakan
peran dimensi, mekipun umpamanya kurikulum itu kurang baik, mereka dapat
melaksanakannya melalui jalur birokrasi. Tipe kurikulum ini mengikuti model
penyebaran (difusi) dari pusat ke daerah. Sebaliknya, penyebaran kurikulum yang
menekankan situasi sangat mementingkan penyiapan unsur-unsur yang terkait.
Kurikulum yang menekankan organisasi, strategi penyebarannya sangat mengutamakan
guru.[12]
Kurikulum yang menekankan organisasi, strategi
penyebarannya sangat mengutamakan latihan guru. Penyebaran ini lebih merupakan
pembaharuan dari dalam dan bukan karena paksaan atau keharusan dari luar. CARE
(Centre for Applied Research in Education) di Universitas East Anglia Norwegia,
aktif dalam mengadakan pelatihan guru. Salah satu proyeknya yang pertama adalah
Nuffield/Schools Council Humanities Curriculum Projecttahun 1967. Proyek ini
disiapkan untuk meningkatkan usia anak yang meninggalkan sekolah, disediakan
bagi anak usia 14 sampai 16 tahun dan yang kecerdasannya di bawah rata-rata.
Banyak kesulitan yang dialami dalam proyek ini, yang paling kritis adalah
mengenai komunikasi antara tim proyek dengan guru-guru, para administrator, dan
para siswa. Proyek ini juga memiliki suatu tim evaluasi. Salah satu kesimpulan
dari hasil evaluasi mereka adalah hasil-hasil yang dicapai oleh guru-guru yang
terlatih (yang mengerti maksud serta latar belakang proyek) tidak dapat dicapai
oleh guru-guru yang tidak terlatih. Ini menunjukkan bahwa latihan guru memegang
peranan penting dalam penyebaran program. Model evaluasi kaitannya dengan teori
kurikulum.[13]
Dalam buku Nana Syaodih Sukmadinata mengatakan, pada
kurikulum yang menekankan organisasi, tugas evaluasi lebih sulit lagi, karena
isi dan hasil kurikulum bukan hal yang utama, yang utama adalah aktivitas dan
kemapuan siswa. Salah satu pemecahan bagi masalah ini adalah dengan pendekatan
Kurikulum Humaniti dari CARE. Dalam proyek itu dicari perbandingan materi
antara proyek yang menggunakan guru yang terlatih dengan yang tidak terlatih,
dalam evaluasinya juga diteliti pengaruh umum dari proyek, dengan cara
mengumpulkan bahan-bahan secara studi kasus dari sekolah-sekolah proyek.
Meskipun pendekatan perbandingan banyak memberikan hasil yang berharga, tetapi
meminta waktu terlalu banyak dari evaluator. Dalam perkembangan selanjutnya,
ternyata bahan-bahan dari hasil studi kasus memberikan hasil yang lebih
berharga bagi evaluasi kurikulum[14]
Perbedaan konsep dan strategi pengembangan dan
penyebaran kurikulum, juga menimbulkan perbedaan dalam rancangan evaluasi.
Model evaluasi yang berifat koperatif menekankan pada obyektif yang sangat
sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi. Pendekatan
yang bersifat goal free lebih
memungkinkan untuk mengevaluasi kurikulum yang menekankan pada situasi.
Pendekatan yang bersifat eklektif lebih cocok jika diterapkan dalam kurikulum
yang menekankan organisasi.[15]
C.
Evaluator
Kurikulum
Evaluasi kurikulum dilakukan oleh evaluator yang
telah memenuhi syarat atau kualifikasi. Tidak semua orang boleh menjadi
evaluator, kecuali orang-orang yang memang berkompeten di bidang kurikulum.
Syarat-syarat tersebut antara lain adalah:[16]
1. Orang
yang memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi baik secara teoritis maupun
keterampilan praktis.
2. Mempunyai
kecermatan yang dapat melihat celah-celah dan detail serta bagian-bagian
kurikulum.
3. Bersikap
obyektif dan tidak mudah terpengaruh oleh keinginan dan kepentingan pribadi
sehingga dapat mengambil data dan kesimpulan yang sesuai dengan ketentuan.
4. Sabar,
tekun dan tidak gegabah dalam menjalankan tugas mulai perencanaan kegiatan,
menyusun instrument, mengumpulkan data dan menyusun laporan.
5. Hati-hati
dalam menjalankan pekerjaan evaluasi dan bertanggung jawab terhadap segala
tugas dan resiko kesalahan yang diperbuat
Evaluator
kurikulum dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut:[17]
1. Evaluator
dalam (internal evaluator)
Evaluator
dalam adalah pelaksanaan evaluasi kurikulum yang sekaligus berasal dari lembaga
yang akan dievaluasi.
Kelebihan
evaluator dalam adalah evaluasi menjadi tepat sasaran karena evaluator sangat
memahami dan menguasai kurikulum yang akan dievaluasi. Hemat dari segi
pendanaan, karen lembaga yang dievaluasi tidak perlu mengeluarkan banyak dana
untuk membayar evaluator kurikulum.
Kelemahan
evaluator dalam adalah adanya kemungkinan subyektifitas dari evaluator, yang
hanya akan menyampaikan kepentingan pribadi. Kemungkinan adanya sikap tidak
cermat evaluasi menurut versi dirinya
2. Evaluator
luar (external evaluator)
Evaluator
adalah evaluator yang berasal dan berada di luar lembaga yang akan dievaluasi
dan tidak terlibat dalam implementasi kurikulum. Diharapkan evaluator ini mampu
bertindak dan mampu bersikap independent, karena tidak memiliki kepentingan
pribadi. Kelebihan evaluator luar adalah lebih obyektif dalam melaksanakan
evaluasi karena ia tidak berkepentingan mengenai kategori keberhsilan atau
kegagalan implementasi kurikulum yang telah berjalan. Apapun hasil evaluasi
tidak akan direspon secara emosional oleh evaluator luar karena ia tidak ingin
memperlihatkan bahwa kurikulum tersebut berhasil dengan baik. Kesimpulan yang
akan diambil dan dibuat lebih sesuai dengan keadaan dan kenyataan.
Kelemahan
evaluator luar antara lain adalah kurangnya pemahaman terhadap seluk beluk dan
seluruh aspek kurikulum memungkinkan kesimpulan yang diambil kurang tepat.
Pemborosan dana kerena pihak pengambil kebijakan harus mengeluarkan dana yang
besar untuk membayar evaluator luar.
Mengingat
masing-masing evaluator baik evaluator dalam mapun luar, memiliki beberapa
kelebihan dan kelemahan, maka sebaiknya dianjurkan evaluator itu gabungan dari
dalam dan dari luar. Dengan demikian evaluator dalam bisa memberikan penjelasan
dan pemahaman kepada evaluator luar tentang segala hal yang berhubungan dengan
kurikulum. Hal ini menguntungkan pengambil kebijakan kere\na tidak perlu
mengeluarkan banyak dana, dan menguntungkan bagi pelaksana kurikulum atau
lembaga yang dievaluasi karena ada pihak dalam yang terlibat, yang tentu lebih
memahami kurikulum tersebut dari pada orang luar.
Evaluator
hendaknya terlebih dahulu mempelajari, menelaah dan mendalami seluruh aspek
kurikulum yang akan dievaluasi, agar kesimpulan yang diambil tepat dan tidak
merugikan pihak tertentu. Evaluator sering menghadapi delima pertimbangan etis,
dalam menjalankan tugasnya seperti yang disinyalir Ronal G. Schnee dalam buku
Muhammad Zaini yang menyebutkan beberapa
hal antara lain:[18]
1. Otonomi
yang berkaitan dengan pelaksanaan program kurikulum, misalnya kepala sekolah
dan guru. Mereka tentu akan menyanjung program kurikulum ketika diminta untuk
mengevaluasi.
2. Hubungan
dengan klien, artinya evaluator ketika menjalankan tugasnya harus bekerja sama
dengan klien atau pelaksana kurikulum di suatu sekolah.
3. Evaluator
dalam melaksanan tugasnya tidak boleh mengabaikan fakta politik dan konteks
sosial, sehingga hasil kerja evaluasi kurikulum itu dapat bermafaat.
4. Evaluator
dalam dalam melaksanakan evaluasi tidak mungkin melepaskan diri dari
nilai-nilai atau norma yang dianut dan dijadikan pedoman hidupnya.
5. Evaluator
hendaknya memilih dan mempertimbangkan rancangan dan metodologi, untuk
mendapatkan hasil yang maksimal.
6. Memberikan
kesempatan kepada orang lain untuk menelaah kembali (review) terhadap rancangan
evaluasi, guna mengurangi adanya bias dan pemborosan.
7. Evaluator
hendaknya dengan jujur mencantumkan penjelasan tentang keterbatasan dan
hambatan selama proses evaluasi berlangsung.
8. Evaluator
perlu menyertakan hasil evaluasi negativ agar data yang dilaporkan bermanfaat
bagi peningkatan program berikutnya.
9. Penyebar
luasan hasil evaluasi, karena tujuan evaluasi adalah untuk mengumpulkan
informasi bagi tindak lanjut program.
10. Evaluasi
tidak boleh melanggar hal-hal yang dilindungi sesuai dengan peraturan yang ada.
11. Pelaksanaan
program boleh menolak evaluator dengan alasan tertentu.
D.
Model
Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas,
meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan
suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan
suatu fenomena yang multifaset, memiliki banyak segi.
Macam-macam model evaluasi yang digunakan bertumpu
pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model
evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi
yang berorentasi tujuan berkaitan erat dengan meteri dan tingkah laku individu.
Evaluasi yang menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan
pada bahan ajar atau isi kurikulum. Model atau pedekatan antropologis dalam
evaluasi ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam suatu lembaga
social. Dengan demikian, sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara
evaluasi dengan kurikulum sebab teori kurikulum juga merupakan teori dari
evaluasi kurikulum.
Ada beberapa model dalam evaluasi kurikulum, yaitu
sebagai berikut:[19]
1.
Evaluasi
kurikulum model penelitian (research evaluation model)
Model
evaluasi kurikulum yang menggunakan penelitian didasarkan atas teori dan metode
tes psikologi serta ekperimen lapangan. Salah satu pendekatan dalam evalusai yang
menggunakan eksperimen lapangan adalah comparative
approach, yaitu dengan mengadakan perbandingan antara dua macam kelompok
anak.
Model
evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan
metode tes psikologi dan serta eksperimen lpangan.[20]
Tes psikologi atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes
intelegensi yang ditunjukkan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes bawaan
yang mengukur perilaku skolastik.
Ada
beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut. Pertama, kesulitan administrative,
sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. Kedua, masalah teknis dan logis, yaitu
kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang
diuji. Ketiga, sukar untuk
mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok
control, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol. Keempat, ada keterbatasan mengenai manipulasieksperimen yang dapat
dilakukan.
2.
Model
evaluasi kurikulum yang berorientasi pada tujuan (goal/objective oriented
evaluation model)
Dalam
model ini, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses
pengembangan kurikulum. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain,
tetapi diukur dengan seperangkat tujuan atau kompetensi tertentu. Keberhasilan
pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan atau
kompetensi tersebut.
Ada
beberapa persyaratan yang harus dipeuhi oleh tim pengembang model obyektif,
yaitu sebagai berikut:[21]
a. Ada
kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum
b. Merumuskan
tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa
c. Menyusun
materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
d. Mengukur
kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan
Dasar-dasar
teori Tvlor dan Bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan
kurikulum, dan mencapai puncaknya dalam system belajar berprogram dan system
instruksional. Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI (Individually Prescribed Instruction). Dalam IPI anak mengikuti
kurikulum yang mengikuti 7 unsur, yaitu:
a. Tujuan-tujuan
pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit
b. Suatu
prosedur program testing
c. Pedoman
prosedur penulisan
d. Materi
dan alat-alat pengajaran
e. Kegiatan
guru dalam kelas
f. Kegiatan
murid dalam kelas
g. Prosedur
pengelolaan kelas.
3.
Model
evaluasi kurikulum yang lepas dari tujuan (goal free evaluation model)
Model
ini dikembangkan oleh Micheal Scriven, yang cara kerjanya berlawanan dengan
model evaluasi yang berorientasi pada tujuan. Menurut pendapat Scriven, seorang
evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yang
perlu diperhatikan adalah bagaimana kerjanya.[22]
Cara dengan memperhatikan dan mengidentifikasi penampilan yang terjadi, baik
hal-hal positiv yang diharapkan maupun hal-hal negativ yang tidak diinginkan.
4.
Model
campuran multivariasi
Model
campuran multifariasi adalah strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari
beberapa model evaluasi kurikulum. Model ini memungkinkan perbandingan lebih
dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur
berdasarkan criteria khusus dari masing-masimg kurikulum.
Langkah-langkah
yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini yaitu:
a. mencari
dan menentukan sekolah yang berminat
untuk dievaluasi atau diteliti.
b. Pelaksanaan
program, bila tidak ada percampuran sekolah, maka tekanannya pada partisipasi
yang optimal.
c. Semetra
tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya dengan
menggunakan metode global dan metode unsur, dapat disiapkan tes tambahan.
d. Bila
semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan computer.
e. Tipe
analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dari beberapa
variable yang berbeda.[23]
Beberapa
kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multivareasi ini adalah:
a. Diharapkan
memberikan tes statistic yang signifikan.
b. Terlalu
banyaknya variable yang perlu dihitung pada suatu saat.
c. Meskipun
model ini telah mengurangi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan
tetapi tetap menghadapi masalah-masalah pembandingan.
5.
Model
evaluation program for innovate curriculumbs (EPIC)
Model ini menggambarkan keseluruhan
program evaluasi kurikulum dalam sebuah kubus. Kubus ini memiliki tiga bidang,
bidang pertama adalah perilaku (behavior) yang meliputi perilaku cognitive,
affective, psychomotor. Bidang kedua adalah pembelajaran (instruction), yang
meliputi organisasi, materi, metode fasilitas atau sarana dan pendanaan. Bidang
ketiga adalah kelembagaan (institution) yang meliputi guru, murid,
administrasi, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat.
6.
Model
CIPP (Contex, Input, Procces, and Product)
Model ini dikembangkan oleh
Stufflebeam (1967) dan kawan-kawan di Ohio State University AS dan model ini
paling banyak diikuti oleh para evaluator. Model ini memandang bahwa kurikulum
yang dievaluasi adalah sebuah sistem, maka apabila evaluator telah menentukan
untuk menggunakan model CIPP, maka evaluator harus menganalisis kurikulum
tersebut berdasarkan komponen-komponen model CIPP.
Model ini mengemukakan bahwa untuk
melakukan penilaian terhadap program pendidikan diperlakuakan empat macam jenis
yaitu:
a. Penilaian
konteks (context)yang bekaitan dengan tujuan.
Penilaian konteks adalah upaya
untuk menggambarkan dan merinci lingkungan,
kebutuhan, populasi dan sample yang dilayani serta tujuan pembelajaran.
Kebutuhan siswa apa saja yang belum terpenuhi, tujuan apa saja yang belum
tercapai dan tujuan apa saja yang belum tercapai.
b. Penilaian
masukan (input) yang berguna untuk pengambilan k eputusan desain.
Maksud evaluasi ini adalah
kemampuan siswa dan kemapuan sekolah dalam menunjang pendidikan.
c. Penilaian
proses (process) yang membimbing langkah operasional dalam pembuatan keputusan.
Penilaian ini menunjukkan pada
kegiatan yang dilakukan dala program, apakah pelaksanaan kurikulum tetap
sanggup melakukan tugasnya, siapa yang bertanggung jawab melaksanakannya, dan
lain-lain.
d. Penilaian
keluaran yang memberikan data sebagai tambahan erbuatan keputusan (product).
Penilaian keluaran adalah tahap
akhir serangkaian evaluasi program kurikulum, yang diarahkan pada hal-hal yang
menunjukkan perubahan yang terjadi pada siswa.
7.
Model
Ten Brink
Ten Brink mengemukakan adanya tiga
tahap evaluasi kurikulum yaitu; pertama, tahap persiapan, adapun langkah –
langkahnya sebagai berikut:[24]
a. Melukiskan
secara spesifik pertimbangan dan keputusan yang dibuat.
b. Melukiskan
informasi yang diperlukan.
c. Memanfaatkan
informasiyang ada
d. Menentukan
kapan dan bagaimana cara memperoleh informasi
e. Menyusun
dnn memilih instrument pengumpulan informasi yang digunakan.
Kedua, tahap pengumpuln data
melalui dua langkah yaitu memperoleh informasi yang diperlukan dan menganalisis
dan mencatat informasi. Ketiga, tahap penilaian yang berisi keiatan – kegiatan
sebgai berikut:
a. Membuat
pertimbangan yang digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan
b. Membuat
keputusan yang merupakan suatu pilihan beberapa alternatif tindakan
c. Mengikhtisarkan
dan melaporkan hasil penilaian
8.
Model
Pendekatan Proses
Evaluasi
kurikulum model pendekatan proses ini tumbuh dan berkembang secara kualitatif,
yang menjadi pendekatan yang penting. Karakteristik model ini adalah:[25]
a. Kriteria
yang digunakanuntuk evaluasi tidak dikembangkan sebelum pelaksanaan (evaluator)
berada di lapangan.
b. Sangat
peduli dengan masalah yang dihadapi oleh para pelaksana kurikulum.
c. Evaluasi
yang dilakukan terhadap kurikulum adalah merupakan satu kesatuan yang utuh,
tidak terpecah belah dalam bagian-bagian tertentu.
Adapun
prosedur evaluasi kurikulum model pendekatan proses adalah sebagai berikut:
a. Pengumpulan
data dari berbagai sumber, misalnya kepala sekolah atau madrasah, guru dan
tenaga kependidikan
b. Menganalisis
data setelah data terkumpul dari berbagai sumber
c. Pengambilan
keputusan dan berpijak pada kelebihan dan kekurangan suatu kurikulum, sehingga
akan melahirkan pemikiran alternativ untuk perbaikan atau inovasi kurikulum.
9.
Model
Evaluasi Kuantitatif[26]
Model
kuantitatif ditandai oleh cirri yang menonjol dalam penggunaan prosedur
kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran
paradigma positivisme. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, paradigma
positivism menjadi tradisi keilmuan dalm evaluasi terutama melalui tradisi
psikometrik.
Hal
lain yang dapat dikemukakan mengenai model-model kuantitatif ini ialah
persamaan mereka dalam fokus evaluasi yaitu pada kurikulum dimensi hasil
belajar. Ada beberapa macam dalam model evaluasi kuantitatif yaitu:
a. Model
balck box Tyler
Model
Tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan oleh
pengembangnya. Tyler, yang mengajukan model ini menuliskan buah pikirannya
tersebut tidak dalam satu tulisan lepas mengenai evaluasi kurikulum. Buku yang
diberi judul Basic principles of
curriculum and instruction ditulis ketika ia bertugas sebagai professor di
Universitas Chicago.
Model
yang dikemukakan dibangun atas dua dasar, yaitu: evalusai yang ditunjukkan
kepada tingkah laku peserta didik dan evaluasi harus dilakukan pada tingkah
laku awal peserta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada saat
peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut.
Dengan
dasar evaluasi yang kedua, Tyler menghendaki evaluator dapat menetukan
perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar yang diperoleh dari kurikulum.
Dalam pelaksanaannya, Tyler mengemukakan ada tiga prosedur utama yang harus
dilakukan yaitu:
·
Menentukan
tujuan kurikulum yang akan di evaluasi
·
Menentukan
situasi di mana peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan
tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan
·
Menentukan alat
evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.
Model
evluasi Tyler memiliki keunggulan dalam kesederhanaannya. Evaluator dapat
memvokuskan kajian evaluasinya hanya pada satu dimensi kurikulum yaitu dimensi
hasil belajar. Keunggulan model Tyler pada sisi lain menjadi titik lemah model
ini. Fokus pada hasil belajar dan mengabaikan dimensi proses adalah sesuatu
yang tidak sejalan dengan pendidikan.
Faktor
lain yang menyebabkan kelemahan model ini adalah kenyataan yang diungkapkan
oleh banyak studi yang mengkaji dimensi proses. Kenyataan yang terungkap dari
hasil studi tentang proses ini menyebabkan sukar untuk melakukan claim bahwa hasil yang diperlihatkan
oleh peserta didik adalah hasil yang ditimbulkan kurikulum yang dievaluasi
b. Model
teoritik Taylor dan Maguire
Model
ini lebih mendasarkan dirinya pada pertimabangan teoritik suatu model evaluasi
kurikulum. Unsur-unsur yang ada dalam model ini seperti sumber sosial tujuan,
tujuan yang dikembangkan berdasarkan pendekatan behavioral, pengembangan strategi dan semangat psikometrik kiranya
merupakan pengaruh Tyler yang mungkin tidak didasari Taylor dan Maguire.
Berdasarkan
Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan tersebut maka satuan pendidikan
mengembangkan visi dan tujuan yang ingin dicapai satuan pendidikan tersebut.
Tugas tugas tersebut yaitu:
·
Menjadi
pengembang tanggung jawab para pengembang kurikulum ditigkat satuan pendidikan
·
Mencari data
mengenai keserasian antara tujuan umum dengan tujuah behavioral dan hasilnya
dimasukkan menjadi vektor lanjur matrik penafsiran
·
Mengevaluassi
pengembangan tujuan tersebut menjadi pengalaman belajar.
c. Model
pendekatan sistem Alkin
Pendekatan
ini memiliki keunikan dibandingkan pakar evaluasi lainnya dimana ia memasukkan
unsur pendekatan ekonomi mikro dalam pekerjaan evaluasi. Model ini dikembangkan
berdasarkan empat asumsi yaitu:
·
Variable
perantara adalah merupakan satu-satunya kelompok varabel yang dapat
dimanipulasi.
·
Sistim luar
tidak langsung dipenaruhi oleh keluaran sistim
·
Para pengambil
keputusan sekolah tidak memiliki kontrol mengenai pengaruh yang diberikan
sistim luar.
·
Faktor masukkan
mempengaruhi aktivitas faktor perantara
Pada
dasarnya, model pendektan system Alkin dapat digunakan untuk melakukan kajian
mengenai kurikulum di Indonesia terlebih-lebih ketika satuan pendidikan telah
memiliki KTSP. Kekuatan model ini adalah keterkaitannya dengan sistem. Evaluasi
suatu satuan pendidikan yang masing-masing sangat dimungkiinkan karena setiap
satuan pendidikan itu merupakan unit yang dikendalikan secara khusus dengan berlakunya
manajemen berbasis sekolah.
Kelemahan
model ini terutama keterbatasannya dalam fokus kajian. Model ini hanya dapat
digunakan untuk mengevaluasi kurikulum yang sudah siap dilaksanakan oleh
sekolah. Dala situasi pengembangan kurikulum yang sekarang (KTSP) model ini
dapat digunakan setelah kurikulum tersebut berhasil dikembangkan dan siap
dilaksanakan di satuan pendidikan tersebut.
d. Model
countenance stake
Model
ini adalah model pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan Stake. Stake
mengemukakan keseluruhan keiatan evaluasi yang harus dilakuakan dengan cara
yang diinginkan bagaimana evaluasi tersebut dilakukan. Dalam buku ini model
Stake dikelompokkan sebagai model evaluasi kuntitatif karena pada awalnya model
ini dikembangkan dengn pendekatan kuantitatif. Tapi, apabila kemudian
adaevaluator yang ingin menggunakan model ini dengan pendekatan kualitatif
tentu saja.
10. Model Ekonomi
Mikro[27]
Model
ekonomi mokro pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan
kuantitatif. Sebagaimana kebanyakan model kuantitatif, model ekonomi mikro
memiliki fokus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil belajar dan hasil
yang diperkirakan).
Dalam
mengukur hasil, digunakan suatu instrument yang sudah ditandarisasi. Penggunaan
instrumen standar penting karena hanya dengan demikian perbandingan antara
biaya dengan hasil dapat dilakukan secara berimbang. Kurikulum lain yang
dikembangkan oleh satuan pendidikan lain mungkin didasarkan atas ide yng
berbeda. Dalam pandangan teoritikkurikulum satuan pendidikan tersebut dinyatakan baahwa seseorang yang
telah menyelesaikan studinya harus memiliki pengetahuanyang cukup untuk dapat
hidup produktif di masyarakat.
Persoalan
mengenai persamaan tujuan kurikulum yang akan dibandinkan tidak akan dialami oleh
evaluator yang akan menerapkan model cost-benefit. Hal penting lainnya ialah
bahwa skala penilaian tersebut diukur pada pengukuran interval dan bukan
ordinal.
Model
terakhir dari kelompok mikro ekanomi ialah yang dinamakan model
cost-feasibility. Berbeda dengan ketiga model terdahulu, model ini tidak
berusaha mencari hubungan antara biaya dengan hasil tertentu. Perhitungan biaya
masa depan perlu diperhitungkan agar kurikulum yang dikembangkan tersebut
mendapat jaminan dalam implementasinya.
11. Model Evaluasi
Kualitatif[28]
Ciri
khas dari model evaluasi kualitatif adalah selalu menempatkan proses
pelaksanaankurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh karena itu kurikulum
dalam dimensi kegiatan atau proses lebih mendapatkan perhatian dibandingkan
dimensi lain suatu kurikulum walaupun harus dikatakan bahwa perhatian utama
terhadap proses dimensi lain.
Model
utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Demikian kuatnya posisi studi
kasus sebagai model utama dilingkungan evaluasi kualitatif sehingga setiap
orang berbicara tentang model evaluasi kualitatif maka nama studi kasus segera
muncul dalam kontak memorinya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Evaluasi kurikulum sebagai usaha sebagai usaha
sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan
sebagai pertimbangan mengenai mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam
suatu konteks tertentu. Evaluasi kurikulum dapat mencakup keseluruhan kurikulum
atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode
pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. Secara sederhana, dapat
disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian
yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan
antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuan. Evaluasi bertujuan untuk
mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penetuan keputusan mengenai kurikulum apakah
akan ada revisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih
luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk
mengui teori atau membuat teori baru.
Kurikulum merupakan study intelektual yang cukup
luas. Banyak teori tentang kurikulum. Beberapa teori menekankan pada rencana,
pada inovasi, pada filosofi dan pada konsep-konsep yang diambil ari perilaku
manusia. Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas
teori-teori yang lebih menekankan pada evaluasi kurikulum, pada situasi
pendidikan sertapada organisasi kurikulum. Terdapat beberapa perbedaan penekanan
dalam kurikulum. Perbedaan penekanan dalam kurikulum tersebut mengakibatkan
perbedaan dalam pola rancangan dan dalam pengembangannya. Konsep kurikulum yang
menekankan isi memberikan perhatian besar pada analisis pengetahuan baru yang
ada. Konsep situasi menuntut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar.
Dan konsep organisasi memberikan perhatian besar pada struktur belajar.
Perbedaan-perbedaan dalam rancangan tersebut mempengaruhi langkah-langkah
selanjutnya
Evaluasi kurikulum dilakukan oleh evaluator yang
telah memenuhi syarat atau kualifikasi. Tidak semua orang boleh menjadi
evaluator, kecuali orang-orang yang memang berkompeten di bidang kurikulum.
Evaluator kurikulum dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu sebagai
berikut:
3. Evaluator
dalam (internal evaluator)
Pelaksanaan
evaluasi kurikulum yang sekaligus berasal dari lembaga yang akan dievaluasi.
4. Evaluator
luar (external evaluator)
Macam-macam
model evaluasi yang digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang
diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat
komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu. Evaluasi yang
menekankan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan
ajar atau isi kurikulum. Model atau pedekatan antropologis dalam evaluasi
ditunjukkan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam suatu lembaga social
1. Evaluasi
kurikulum model penelitian (research evaluation model)
2. Model
evaluasi kurikulum yang berorientasi pada tujuan (goal/objective oriented
evaluation model)
3. Model
evaluasi kurikulum yang lepas dari tujuan (goal free evaluation model)
4. Model
campuran multifariasi
5. Model
evaluation program for innovate curriculumbs (EPIC)
6. Model
CIPP (Contex, Input, Procces, and Product)
7. Model
Ten Bink
B. Saran
Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kekurangan karena keterbatasan saya sebagai manusia biasa, untuk itu kritik dan saran
amat kami harapkan demi kesempurnaan kami dalam menyelesaikan tugas-tugas
dimasa yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Wayan
Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, Surabaya:
Usaha Nasional, 1986
Muhammad Zaini, Pengembangan
Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi, Yogyakarta: TERAS, 2009
Ahmad
dkk, Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Pustaka Setia, 1989
Suharsimi Arikunto dan Cepe Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teorotis
dan Praktis bagi Praktis Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1997
Omar
Homalik, Evaluasi Kurikulum,Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1990
http://blog.elearning.unesa.ac.id/antok-saivul-huda/definisi-tujuan-dan-fungsi-evaluasi-kurikulum.
diakses
tanggal 09-05-2012
Nana
Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan
Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996
M.
Chabib Toha, Teknik Evaluasi Pendidikan,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1997
http://popeye-hijau.blogspot.com/2010/09/model-evaluasi-kurikulum.html.
diakses 09-05-2012
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1993
Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembanagan Kurikulum Sekolah, Yoyakarta: BPFE, 1998
Hamid
Hasan, Evaluasi Kurikulum, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2008
[1] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1986), hal. 1
[2] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi
Evaluasi dan Inovasi, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hal. 104
[3]
Ahmad dkk, Pengembangan Kurikulum, (Bandung:
Pustaka Setia, 1989), hal. 15
[4] Suharsimi Arikunto dan Cepe
Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program
Pendidikan Pedoman Teorotis dan Praktis bagi Praktis Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara, 1997), hal. 4
[5]
Omar Homalik, Evaluasi Kurikulum,(Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1990), hal. 52
[6] http://blog.elearning.unesa.ac.id/antok-saivul-huda/definisi-tujuan-dan-fungsi-evaluasi-kurikulum. diakses tanggal 09-05-2012
[7]
Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di
Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), hal. 172
[8]
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 146
[9]
M. Chabib Toha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 18
[10] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, (Surabaya:
eLKAF, 2006) hal. 105
[12] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik,
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 170
[14] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, hal. 178
[15] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 148
[18] Ibid, hal. 151
[19] Ibid, hal. 152
[20]
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, hal. 185
[21] Ibid, hal. 186
[22]
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 1993), hal. 122
[23]Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 154
[24]
Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembanagan Kurikulum Sekolah,
(Yoyakarta: BPFE, 1998), hal. 191
[25]
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 158
[26]
Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008), hal. 187
Tidak ada komentar:
Posting Komentar